BTS, Catatan, K-Pop

Love Yourself: What Am I to You [26-selesai]

[26]

“Kamu sebenarnya siapa?”

“Joen Jungkook. Kookie… Kookie….” jawabnya sambil menaik-turunkan bahu sambil meringis. Dan itu membuatku sangat sebal. Semakin sebal karena dia tidak tahu kalau aku sedang sebal!

Aku menatapnya tanpa ekspresi, yang selanjutnya dia kikuk sendiri.

Hyung, ada yang bilang kalau orang sering marah-marah itu cepat mati,” kelakar yang sungguh tidak lucu, tidak pada tempatnya.

“Kookie-a….”

“Hehe, tidak lucu, ya?” lanjutnya.

…..

“Begini, selain dance, aku juga suka main game, menyanyi, menggambar, dan fotografi. Aku masih sangat muda untuk menyukai dan melakukan banyak hal, Hyung. Dan aku rasa bisa menguasai semuanya dengan sangat baik. Meskipun pada akhirnya, semangat menggebu-gebu itu tidak berjalan sesuai keinginan. Ingin kuenyahkan kegemaran tidur, atau keserakahan selalu menang main game dengan prinsip milikku adalah milikku sedangkan milikmu adalah milikku. Hahaha. Lalu, suatu hari yang sudah sangat lamaaa sekali, aku menghadiri pameran foto. Hm, kira-kira satu tahun yang lalu. Dan sejak saat itu aku mengenalnya. Orang ini cukup aneh tapi keanehannya menjadi magnet yang unik. Orang-orang tertarik dan menempel. Aku salah satunya. Kegemarannya cuma satu, fotografi. Dan dia tekuni benar-benar. Dia juga cerita tentang temannya yang ingin sekali menari meskipun keadaan tidak begitu memungkinkan. Sejak saat itu aku kembali dengan semangat awalku untuk bersungguh-sungguh terhadap semua yang kusukai. Hasilnya? Seperti yang sudah-sudah. Apa Hyung tahu cara melenyapkan kegemaran tidur?”

Kamu hanya perlu pelukan seseorang.

Hyung!”

“Eh, apa? Apakah barusan aku bilang tentang pelukan?” tanyaku gelagapan.

“Ha?”

“Lanjutkan.”

“Saat dia melakukan pameran tunggal, aku melihat Hyung juga ada di sana. Hyung berlama-lama di depan lukisan berjudul ‘Sea’.”

“Kim Taehyung?”

“Siapa lagi? Memangnya ada orang seaneh dia. Hahaha…. Awalnya, kami hanya sharing tentang fotografi. Lalu aku cerita tentang hal-hal lain yang inginku tekuni. Dia adalah orang pertama yang menertawakan setiap kegagalan targetku. Tapi di sisi lain, tanpa nasihat, dia cukup menunjukkan jalan. Jika aku ingin benar-benar serius dance, aku harus bertemu denganmu.”

Kim Taehyung seharusnya tidak sebodoh itu menunjukkan jalan sesat kepada Jungkook untuk kegagalan yang lebih lagi.

[27]

Jhope Hyung beberapa kali menghubungiku tapi kuabaikan. Bukannya lagi-lagi menghindari sesuatu yang harus kuhadapi, hanya saja, memang yang paling pas adalah bertemu Jungkook lebih dulu.

“Hai, Jimin-a….” sapanya.

Aku yang baru saja memasuki rumah sangat terkejut. Barangkali karena pikiranku yang memang belum sampai rumah. Hanya tubuhku saja yang menuntun ke sini. Sore begini, biasanya aku ke tempat latihan Jhope Hyung.

“Oh, apakah aku mengagetkanmu?” tanyanya, dengan masih berdiri di dekat meja dapur.

“Ti… tidak….” jawabku agak terbata.

Kumasuki ruang tamu setelah sebelumnya meletakkan sepatuku di dekat sepatu puma warna putih. Sepatu yang beberapa lalu juga kutemui.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Upaya minta maaf.”

“Apakah kalian biasa seperti ini? Masuk ke rumah seseorang dengan sangat bebas?”

“Aku tidak memaksamu menyukaiku, Jimin-a. Tapi percayalah kedatanganku ke sini dengan niatan baik-baik dan tolong buat aku tetap menjadi baik.”

“Kamu memasak sesuatu? Aku mencium bau gosong…. Astaga!”

Buru-buru aku melemparkan tas ke kursi. Melupakan sejenak perdebatan barusan. Sungguh konyol jika rumah ini terbakar hanya gara-gara seseorang menyalakan kompor dan menaruh panci di atasnya. Iya, panci saja. Tidak ada yang lain.

***

Di hadapan kami ada sebotol kola besar dan ayam. Dapur sudah kami tinggalkan. Segala bahan-bahan yang sebelumnya akan dijadikan sup daging, kembali kumasukkan dalam kulkas.

“Sejujurnya, aku belum pernah memasak sebelumnya, Jimin-a. Hari ini akan menjadi yang pertama kali. Sayangnya, belum juga memulai, aku sudah membuat kekacauan. Ruri bilang kamu suka sup daging.”

“Harga sup jauh lebih murah dibanding harga rumah ini.”

“Hahaha…. Ya… ya… ya…. Jadi bagaimana? Apakah kamu memaafkanku?”

“Aku tidak merasa Hyung punya salah,” jawabku.

“Ruri dan aku….”

Noona sudah bercerita. Sudah, tidak perlu diulang lagi. Mari kita makan.”

***

Kim Namjoon sengaja dikirimkan Ruri Noona hari itu untuk datang ke rumah. Tapi aku tidak menyangka kalau akan ada inisiatif memasak sup dan berakhir konyol.

Sesungguhnya, dia adalah hyung yang sangat hangat. Kecurigaannya kepadaku beberapa hari lalu wajar jika diingat bagaimana kedekatannya selama ini dengan noona. Sampai kapan mereka terjebak dalam pertemanan yang saling menyayangi, aku tidak tahu. Biar mereka urus sendiri. Yang jelas, menjadi bagian dari keluarga noona sehingga menghubungkan aku dengan Kim Namjoon, membuatku tahu bahwa cinta banyak sekali jenisnya.

Bahkan, cinta bisa meluruhkan curiga. Serta memaksa seseorang untuk meminta maaf, menyadari bahwa anggapan selama ini adalah salah.

Penolakan dari Kim Namjoon, sudah tidak kurasakan lagi.

[28]

Jimin-a, aku tidak perlu mabuk lagi untuk memunculkan keberanian dan menjelaskan semuanya kepadamu. Mari bertemu dan bicara.

Pesan itu yang akhirnya membawa langkahku ke tempat latihan untuk bertemu Jhope Hyung. Malam sudah cukup larut dan sangat dingin. Namjoon Hyung  masih di rumah. Malah dia berniat untuk menginap.

Terserah saja, asalkan dia tidur di kamarku. Bukan kamar noona.

Please, Jimin-a. Jangan berpikir yang tidak-tidak.

“Oh, Hyung… kenapa ada di luar? Ini sangat dingin,” ucapku begitu melihat Jhope Hyung yang berdiri di luar gedung.

“Kukira kamu tidak akan datang, Jimin-a. Pesanku sejak kemarin tidak kamu balas.”

“Apa Hyung kemarin juga menungguku di sini?”

Dia hanya tersenyum.

“Soju?” tawarnya.

“Boleh.”

***

Aku pernah bilang, kan, kalau Hyung yang menemukanku. Hari itu kukira akan menjadi hari seperti biasanya. Setelah selesai melihat pertunjukan tari yang tak terhitung lagi ke berapa kali, saking banyaknya, aku bersiap pulang. Ruangan memang sudah agak lengang. Tapi itu memang waktu yang selalu kupilih. Aku senang melihat panggung yang telah kosong karena bisa dengan leluasa membayangkan diriku menari di sana.

“Heh anak manis!” teriaknya dari arah belakang panggung.

Aku celingukan karena di sisi lain merasa dipanggil, tetapi sisi lainnya merasa tidak percaya diri kalau yang dimaksud barusan adalah aku. Beberapa orang terakhir yang bersiap meninggalkan ruangan, menujukan matanya kepadaku.

“Ha?” tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri.

“Soju! Mari minum soju. Tunggu di situ sebentar,” ucapnya masih dengan terengah-engah sisa kecapekan. Keringat juga masih membanjiri wajahnya.

***

“Aku minta maaf.”

“Hahaha… kenapa belakangan ini banyak sekali orang yang minta maaf? Justru itu membuatku terlihat jahat Hyung. Tidak ada yang salah. Tidak perlu minta maaf. Dan tidak ada yang harus dimaafkan.”

Dingin malam itu, kami siasati dengan pahit di tenggorokan karena soju, tapi selanjutnya hangat. Ini seperti pertemuan pertama kami dulu.

[29]

Aku pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan. Seperti ada kembang api yang meledak-ledak di kepalaku. Padahal belum juga datang tahun baru.

“Hana sudah seperti penagih hutang. Kamu tahu? Justru yang membuat hariku tidak tenang adalah terornya. Apakah aku sudah menemuimu, apakah aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu, dan apakah-apakah lainnya yang jumlahnya lebih dari selusin. Itu membuatku jauh lebih tertekan. Hahaha. Sialan,” ucap Jhope Hyung.

“Hana? Ada apa dengannya?”

“Oh… apakah dia tidak menghubungimu?”

“Sekali, bertanya apakah aku baik-baik saja.”

“Kamu ingat tentang kue ulang tahun yang datang tidak semestinya itu? Aku ingin tertawa jika mengingatnya. Kenapa harus kue ulang tahun, dan yang disodori adalah aku? Sebenarnya, kue itu untukmu, Jimin-a. Dia terlambat tahu tentang ulang tahunmu. Namun begitu melihatmu di ruang latihan, justru kue itu malah diberikan untukku. Bisa ya, orang jatuh cinta seperti itu.”

Tunggu. Ke mana arah obrolan ini?

“Hana yang lebih dulu tahu, kamu sering menggunakan ruang latihan setelah kami pulang. Suatu hari, jaketnya tertinggal dan dia berniat mengambil. Hana heran karena masih ada musik diputar di dalam. Lalu dia melihatmu menari, sama seperti yang kami lakukan sebelumnya. Dia menungguimu hingga selesai malam itu. Begitu kamu berkemas, dia langsung bergegas. Beberapa hari kemudian, dia baru menceritakan semuanya kepadaku. Aku dimintanya menjaga semuanya, agar kamu tidak tahu tentang apa yang kami ketahui,” jelas Hyung.

Aku tersenyum kecut. Kecewa dengan diri sendiri? Barangkali.

Sesuatu yang kusembunyikan, ternyata dengan sangat jelas telah disaksikan.

Anehnya, aku tidak merasa sakit hati, kini.

“Hana menyukaimu. Sudah sejak lama, Jimin-a.”

Ponselku bergetar. Ada notif di Instagram. Taehyung menandaiku pada foto yang baru saja diunggah. Itu foto beberapa malam lalu, ketika Jhope Hyung dan Hana menang kompetisi dance, beberapa saat sebelum Jhope Hyung mabuk.

Taehyung memilih foto yang ada aku di sana, yang diambil oleh Jungkook.

“Hana akan melalukan yang terbaik. Untukmu, Jimin-a.”

Bisikan Taehyung beberapa hari lalu kembali terdengar. Sangat jelas.

[30]

Ada yang bilang, memberikan hati tidak semudah klik dua kali.

Tapi aku dengan mudah mengeklik dua kali foto yang baru saja diunggah Taehyung. Dan jauh sebelum itu, hatiku juga sudah kuberikan kepadanya.

“Selamat ulang tahun!” ucapku melalui telepon.

“Hahaha… sudah hampir lewat tengah malam! Teman macam apa kamu ini. Hah!”

“Hahaha….”

Tidak butuh penjelasan banyak. Cukup meneleponnya, tertawa, dan kami kembali baik-baik saja.

Selamat ulang tahun, Kim Taehyung. Laki-laki paling tampan nomor satu tahun 2017 ini.

 

[31]

 

Shim Hyerim. Menurutku dia tidak kalah aneh dengan Taehyung. Ya, perempuan yang berteriak sangat kencang di kafe sehingga pertengkaranku dengan Taehyung beberapa hari lalu kalah dari pusat perhatian. Setelah itu, dia pingsan. Perempuan ini juga yang telah menumpukkan rindu di hati Taehyung.

Barangkali perpaduan aneh di antara keduanya membuat mereka baik-baik saja. Semoga. Yang jelas, sekarang Hyerim sedang ada di hadapanku. Bertanya beberapa hal yang membuatku kikuk dan sedikit malu-malu.

“Kau yang memasaknya?” tanyanya.

“Bukan, noona memasak…”

“Ya.. Shim Hyerim, kau tahu kemana Kim Tae…. Kukira hanya kita berdua,” ucap laki-laki yang nyelonong masuk setelah dibukakan pintu oleh Hyerim, begitu melihatku.

“Aku mengundangnya. Dia teman Taehyung juga,” jawab Hyerim.

Dia Min Yoongi. Tidak salah lagi.

Astaga. Aku akan menemui berapa kejutan lagi di ruangan sempit ini. Kenapa tiba-tiba orang yang kukenal lama dan hanya kutahu sekelebat mata, ternyata saling berhubungan?

“Hey, kami datang!” Seruan itu tidak kalah akrab dengan telingaku beberapa akhir ini. Suara si pemilik gigi kelinci. Dan, kedatangannya bersama Jhope Hyung juga Hana…. Aku sudah semakin tidak paham lagi. Kukira Jungkook hanya datang sendiri setelah kemarin merengek untuk ikut.

Hyerim menghubungiku dan berkata akan memberi kejutan ulang tahun untuk Taehyung. Aku mengiyakan dan meminta Ruri Noona membuatkan sup rumput laut. Begitu aku sampai di apartemen Taehyung, inilah yang terjadi. Oh bukan, keramaian inilah yang terjadi.

Aku dan yang lain diminta bersembunyi. Min Yoongi berjaga di depan pintu untuk menyambut Taehyung, sementara Hyerim membawa kue.

Saengil chukkhahamnida, Kim Taehyung!” ucap Hyerim begitu Taehyung memasuki ruangan. Tangannya mengulurkan kue beserta lilin di atasnya.

“Apa ini?” tanya Taehyung sambil tertawa pelan.

Lalu, Min Yoongi tersandung tas dan menyenggol kue di tangan Hyerim. Kue itu jatuh tepat di tengah ruangan. Aku menutup mata, masih dengan posisi bersembunyi. Sebelum itu, kulihat wajah Hyerim menyiratkan amarah.

“Selamat ulang tahun, Kim Taehyung,” ucap Min Yoongi pelan dengan cengiran di wajahnya.

Sontak semua tertawa. Selanjutnya, Hyerim mengecup pipi Taehyung singkat dan membisikkan sesuatu.

Oh, harusnya aku memejamkan mata saat itu terjadi.

Apartemen Taehyung yang tidak begitu luas, menjadi sesak dengan tawa dan kehangatan. Aku bahagia melihatnya bersama Hyerim.

***

Entah siasat macam apa yang mereka lakukan, game tidak jelas membuatku harus keluar bersama Hana untuk membeli es krim. Kurasa, mereka sangat kurang kerjaan.

“Aku penasaran dengan cara kalian berbaikan. Sepertinya mudah sekali.” Hana membuka obrolan.

“Kamu sedang membicarakan siapa?”

“Kamu dan Jhope Oppa. Kamu dengan Taehyung. Kamu dengan Jungkook….”

Aku dengan Kim Namjoon…

“Hahaha, aku terlihat seperti orang jahat, ya… bermasalah dengan banyak orang. Semua sudah diselesaikan dengan baik. Sangat baik,” jawabku dengan tersenyum.

“Syukurlah….”

“Hana… Jhope Hyung bilang….”

“Oh, ayo bergegas sebelum es krim ini mencair,” ucapnya sambil buru-buru berjalan di depanku.

“Hana….”

“Jimin, kumohon. Jangan membuatku malu dan membuat kita menjadi kikuk. Okay….”

“Tapi….”

“Ya… aku tahu… aku tahu… Jhope Oppa juga bilang kamu menyukaiku.”

***

Kembali memasuki apartemen Taehyung, kulepas genggaman tanganku dengan Hana.

“Ho? Apakah sesuatu terjadi?” tanya Jhope Hyung dengan mata terbelalak.

“Ini es krimnya,” ucapku sambil malu-malu.

“Manisnya…. Pantas saja Kim Namjoon pernah cemburu dengan anak ini,” tukas Min Yoongi.

“Ha?” respons hampir semua orang.

“Sss….” Min Yoongi mengeluarkan desisan dari mulutnya. “Ruri… hmm… aku memang merasa tidak asing denganmu, Jimin-a. Kita pernah bertemu, kan? Namjoon dibuat uring-uringan karena takut pesonamu bisa merebut Ruri darinya. Kamu memang manis, sampai disuruh beli es krim di saat cuaca dingin begini mau-mau saja.”

Semua tertawa. Aku hanya nyengir. Kulirik Hana yang awalnya ikut tertawa, pelan-pelan berubah tersenyum. Tak kalah manis.

***

Hyung,” panggil Jungkook.

“Ya?”

“Di sini terlalu berisik. Bisakah kita bicara di luar. Hanya berdua, sebentar saja,” pintanya.

Aku mendahuluinya beranjak. Hyerim, Taehyung, dan Min Yoongi sedang membicarakan sesuatu sehingga tidak begitu memperhatikan ketika aku dan Jungkook meninggalkan ruangan. Jhope Hyung dan Hana yang sekilas melihat kami.

“Terima kasih telah menghubungkanku dengan banyak orang-orang baik, Hyung.”

“Kalimat barusan seharusnya kamu tujukan kepada Taehyung. Haha….”

“Jadi, bagaimana?” tanyanya berubah serius. Aura bocah dari dirinya mendadak hilang.

“Mari kita lakukan.”

Dan lagi-lagi, barisan gigi kelinci itu dia pamerkan.

“Terima kasih, Hyung. Mari kita lalui hari-hari berikutnya dengan semangat menari yang luar biasa! Kita harus ikut kompetisi dan bisa seperti Jhope Hyung dan Hana Noona!”

“Hahaha… aku memerlukan banyak bantuanmu, Kookie-a.”

“Siap! Hmm… aku sangat bahagia, bolehkah aku memeluk Hyung?”

Tanpa menjawab, aku berbalik badan dan kembali memasuki apartemen Taehyung. Jungkook hanya tertawa terbahak-bahak atas penolakanku. Dia menyusulku dan menubruk dari belakang.

Di depan sana, akan ada hari-hari yang lebih berat tapi juga lebih bahagia. Akhirnya aku keluar dari ketakutan dan kecemasan tentang kakiku, tentang menari. Aku tidak melawan, hanya berteman dengan keadaan.

Kulepaskan rangkulan Jungkook. Aku tidak mau aroma tubuhnya menggantikan aroma Hana yang beberapa saat lalu menempel di tubuhku.

-selesai-

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *