BTS, Catatan, K-Pop

Love Yourself: What Am I to You [21-25]

[21]

Aku pernah bilang tentang warna kesukaan. Biru.

Tapi ketika aku membuka mata saat itu, semuanya serbaputih. Atap tujuan mataku yang pertama. Sangat bersih. Lalu aku beralih melihat sekeliling. Semuanya juga putih. Bersih. Dan, bau obat. Itu di rumah sakit.

Badanku sakit semua. Tapi ketika mencoba menggerakan kaki, hatiku terasa lebih sakit.

Appa, aku tidak bisa menari. Appa….

Selanjutnya semua berjalan sangat cepat. Atau barangkali, aku yang ingin melupakan kejadian itu sehingga membiarkan semua berlalu. Pemakaman yang berisi tangisanku. Hanya tangisku, Hyorin Noona tidak. Berulang kali dia meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Aku masih begitu kecil, lebih-lebih duduk di kursi roda yang membuatku terlihat semakin menyedihkan.

Simpati orang justru melukaiku.

Kami mengalami kecelakaan saat pulang dari laut. Saat itu aku tertidur di mobil, jadi tidak tahu pasti kejadiannya seperti apa.

Kamu bisa membayangkan? Sebelum memejamkan mata, aku masih sempat melihat tawa Appa dan Eomma. Lalu begitu membuka mata kembali, putih semua yang kutemui.

Laut seperti menjadi musuh. Tapi aku masih menyukai biru.

***

Aku tinggal berdua bersama Hyorin Noona di rumah. Kami bisa saja pindah ke apartemen yang lebih kecil dan praktis. Hanya saja, meninggalkan rumah dengan kenangannya tidaklah mudah.

Ketakutanku tentang kaki tidak banyak terbukti. Aku bisa berjalan, berlari. Tapi menari? Barangkali. Dokter hanya bilang, kemampuan sesuatu yang pernah patah tentu berbeda dengan yang baik-baik saja.

Aku mencoba menari, dan memang tidak sempurna. Jika sudah terlalu, akan ada ngilu. Dan sakitnya tidak main-main.

Suatu hari, aku menemukan setumpuk nota dari tempat karaoke. Sepertinya tanpa sengaja, Hyorin Noona menjatuhkannya. Aku perhatikan, tanggal yang tertera di sana adalah beberapa hari setelah kecelakaan kami, hingga yang terakhir adalah sehari sebelum aku menemukan nota itu. Itu bukan waktu yang sebentar. Astaga, apa yang noona lakukan di tempat itu?

Keesokan harinya setelah sarapan, aku seperti biasanya bersiap berangkat sekolah. Noona juga berangkat kerja. Yang noona tidak ketahui, aku membelokkan langkah, mengikutinya dari belakang.

Aku seperti orang bodoh, ah, atau memang sebenarnya aku ini bodoh?, seharian berada di kafe seberang kantor noona. Sepulang kerja nanti, apakah dia akan ke karaoke lagi? Aku ingin tahu apa yang selama ini dia lakukan.

Begitu noona keluar dari kantor, aku membuntutinya. Benar! dia ke karaoke. Ketika sosoknya sudah menghilang di balik ruangan yang panjang, buru-buru aku menuju meja penjaga, mengaku teman noona, dan bertanya di ruang berapa noona berada.

Naragal su eopseum ttwieo

Today we will survive

Ttwieogal su eopseum georeo

Today we will survive

Georeogal su eopseum gieo

Gieoseorado gear up

Gyeonwo chong! jojun! balsa!*

Suara musik menghentak terdengar, tapi tidak ada suara noona. Aku membuka pintu sedikit, mengintip, mirip penguntit.

Dan aku menemukan noona di sana.

Aku ingin meminta kepada Tuhan bahwa yang kulihat bukanlah Hyorin Noona-ku. Dia yang menangis dengan sangat keras dan menyamarkan melalui lagu tak kalah keras.

.

.

.

*not today_bts

[22]

Suatu hari sepulang sekolah, Hyorin Noona sudah menungguku di ruang tamu. Di meja ada amplop yang logonya sangat tidak asing. Sial! Itu surat peringatan dari sekolah. Belakangan aku memang terlalu sibuk mengikuti keseharian noona hingga beberapa kali bolos sekolah.

“Kamu mulai berkencan, ha?!”

“Ha?!”

“Jangan ajak pacarmu bolos. Ini tahun terakhir kalian di sekolah. Jangan sampai tidak lulus. Bukankah kamu sudah mulai belajar untuk masuk universitas?”

“Aku belajar hingga hampir gila!”

“Oh, jadi kencanmu adalah pelarian?”

“Ha?!”

Selalu begitu. Noona tidak memarahiku, tidak mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya menduga bahwa aku setres dengan tekanan persiapan ujian masuk universitas, kencan sebagai pelarian, hingga bolos sekolah.

Dia meninggalkan beberapa lembar uang di dekat amplop.

“Ajak pacarmu kencan yang layak. Ish… ish…. anak macam apa kencan di jam sekolah,” ucap noona sambil berlalu.

Aku semakin sadar, kegemaranku berpersepsi sendiri menurun dari noona.

Beberapa waktu setelah itu, noona semakin jarang ke karaoke. Dua kali aku membuntutinya lagi, tetapi sepulang kerja dia langsung pergi bersama seseorang. Kupikir itu adalah bosnya.

Ujian masuk universitas benar-benar membuatku tidak bisa melakukan banyak hal selain belajar, belajar, dan belajar. Aku tidak jadi mengambil jurusan tari. Itu tidak mungkin. Anggaplah sebagai pelarian, aku sering melihat pertunjukan di berbagai tempat. Dan Jhope Hyung menemukanku.

[23]

Aku mengingatnya sebagai hari penentuan. Hari yang sama dengan pertama kalinya aku melihat Ruri Noona, meskipun itu hanya sekilas.

Hyorin Noona sudah duduk bersamaku di meja, yang sepertinya sudah dipesan jauh-jauh hari. Dan, aku melihatnya lagi. Laki-laki yang kukira bos noona, sedang berbicara serius dengan perempuan yang kutaksir usianya tidak begitu jauh dengan noona. Mereka seperti mendebatkan sesuatu di dekat pintu masuk. Perempuan itu mengangkat ponsel, menurunkan sebentar seperti memohon, hingga akhirnya pergi.

Laki-laki yang akhirnya duduk di depanku, usianya tidak jauh beda dengan Appa. Sejak hari itu aku memanggilnya “hyung“. Dia adalah calon suami Hyorin Noona. Perempuan yang tiba-tiba pergi tadi adalah anaknya. Ya, dia perempuan yang saat ini tinggal bersamaku di rumah. Rumahnya. Ruri Noona.

***

“Kau sudah tidur?”

“Ya.”

“Mana ada orang tidur bisa menjawab.”

Bodoh!

Apa yang dia lakukan, lagi-lagi, di kamarku?

Noona mencari sesuatu?” tanyaku, masih dengan nyaman di balik selimut.

“Mencarimu.”

Aku menurunkan selimut, lalu memiringkan badan, menghadap Ruri Noona.

“Apakah sesuatu terjadi? Perlukah kita makan enak dan mahal? Atau keluar minum-minum, lagi?” tanyanya.

“Lagi? Kita belum pernah melakukan apa pun, Noona. Mana mungkin ada kata ‘lagi’.”

“Tapi aku tahu, kamu pulang dari minum-minum, kan? Aku sudah berulang kali bilang, bersihkan badan baru kemudian tidur.”

Dengan enggan aku bangun dari tidur, beranjak ke arah lemari, mengambil baju.

“Mau ke mana? Bawa baju?”

“Mandi. Apa Noona mau melihatku tanpa baju lagi? Ha?”

Aku keluar kamar sambil merutuki diri.

Astaga apa yang kukatakan barusan? Aku masih mabuk, kah?

[24]

“Kapan pertama kali kamu melihatku, Jimin-a?” tanya Ruri Noona.

Dia sedang tidur di kasurku. Apa maksudnya coba? Sementara aku duduk di kursi sambil mengeringkan rambut. Oh, siapa pemilik kamar ini sebenarnya?

“Di restoran, tapi hanya sekilas. Waktu itu aku lihat Noona berbicara dengan hyung. Lalu pergi.”

“Oh. Ya, saat itu aku gugup dan menyuruh Namjoon meneleponku. Aku pura-pura ada keperluan sangat penting jadi harus pergi. Hahaha…. Kenanak-kanakan sekali, kan?”

“Apakah kita sedang bicara serius saat ini?” Aku bertanya, masih dengan tangan yang sibuk mengacak-acak rambut dengan handuk.

“Tidak juga.”

“Apakah Noona kasihan kepada keluarga kami?”

“Ha?”

“Aku melihat tatapan tidak menyenangkan ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini. Itu sangat mengerikan.”

Eomma meninggal saat aku masih kecil. Duniaku hanya bersama Appa. Tidak buruk. Aku merasa baik-baik saja. Setelah semakin dewasa, aku sadar kalau di antara kami sudah banyak yang berubah. Tidak banyak hal yang bisa kami bicarakan berdua lama-lama seperti dulu. Hal yang lucu buatku, tidak bisa dianggap lucu oleh Appa. Garing sekali hubungan kami. Belum lagi pendapat kami yang sering berbeda dan tidak jarang berujung pertengkaran. Kemudian aku bekerja dan bisa menyewa apartemen. Ya, apartemen yang kamu kunjungi waktu itu. Aku dan Appa semakin jarang bicara. Bahkan ketika bertanya lewat telepon, kami sering diam lama, lalu bersamaan berkata sesuatu, diam lagi. Dan, ya… seperti itu.”

Dia menghela napas.

“Kakakmu terlalu muda untuk kupanggil eomma. Hahaha. Bahkan sampai sekarang aku masih memanggilnya eonni.”

Ada jeda. Tapi aku belum mengeluarkan suara. Sebab, ada orang-orang yang memang hanya perlu didengarkan.

“Aku berterima kasih kepada kakakmu karena sudah mau menikah dengan Appa. Akhirnya setelah aku sudah tidak bisa memahami Appa lagi, ada perempuan muda yang sangat baik menerimanya.”

“Hmmm….”

“Dan aku menghindari pertemuan itu karena takut kamu akan menolak Appa. Hahaha…. Ah, Jimin-a, sepertinya aku sudah terlalu banyak bicara malam ini. Kamu butuh istirahat.”

Noona bangun dari posisi tidur, sementara aku juga berdiri dari dudukku.

Kukira langkahnya akan ke arah pintu, tapi kenapa justru menujuku?

“Terima kasih, Jimin-a,” bisiknya.

Baru saja dia memelukku.

[25]

Akhirnya, urusan menerima atau menolak adalah sebuah kepentingan.

Ruri Noona menghindar pada pertemuan “lengkap” kami karena takut ditolak. Sementara dia menerima Hyorin Noona sebagai eomma barunya karena merasa ada orang yang bisa menerima appa-nya.

Aku bisa saja menolak hyung karena pautan usia dengan Hyorin Noona yang cukup jauh. Dia lebih pantas kusebut appa daripada hyung. Tapi jika melihat bahagia dari mata mereka, aku bisa apa? Lebih-lebih setelah kenal hyung, noona sudah tidak pernah lagi ke karaoke untuk meluapkan segala kekesalan dan mungkin saja kekecewaan. Ah ya, juga tekanan hidup. Usia mudanya dihabiskan untuk melindungiku, memastikan aku tidak pernah kekurangan satu hal pun. Tak terkecuali perhatian dan kasih sayang.

Sikap dingin Ruri Noona  dulu, pernah kuartikan sebagai penolakan. Dan ternyata, dia tidak hanya menerima Hyorin Noona, tapi juga sepaket denganku, sebagai keluarga barunya.

seberapa banyak lagi penolakan dan penerimaan yang akan kudapatkan?

kepentingan?

dance?

Ah, apalah itu!

Ini sudah hampir pagi, tapi mataku masih terjaga.

Barangkali ini tentang pelukan barusan, atau aroma Ruri Noona yang menempel di tempat tidurku.

Tunggu, aku bukan orang mesum, kan?

-bersambung-

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *