BTS, Catatan, K-Pop

Love Yourself: What Am I to You [16-20]

[16]

“Jimin-a! Apa yang Namjoon katakan padamu?”

Suara yang samar semakin jelas terdengar, dan ketika pintu kamarku dibuka… aku terlambat berbuat sesuatu.

“Oh, maaf aku masuk di saat yang tidak tepat.” Ruri Noona melangkah mundur sambil menutup pintu kamarku.

Aku?

Bengong. Melongo. Melotot. Tidak tahu apakah dunia masih berputar.

“Jimin-a! Kalau sudah pakai baju, lekas keluar. Ada yang ingin aku bicarakan.” Teriakan itu kembali terdengar.

Di cermin, aku bertemu diriku yang masih setengah basah setelah mandi dengan rambut acak-acakan. Aku bisa saja bilang kalau keadaan ini membuatku terlihat seksi. Tentu tanpa kedatangan Ruri Noona yang tiba-tiba menerobos kamar, sementara aku belum berpakaian dan hanya mengenakan bawahan handuk.

Beberapa hari lalu, aku bisa mengurungkan malu karena tahu bahwa yang mengganti bajuku adalah Kim Namjoon. Tapi kali ini berbeda. Aku melihat sendiri bagaimana wajah kaget noona yang menatapku tanpa baju.

“Berhenti memilin bawahan bajumu. Ini bukan pertama kalinya, kan?” ucapnya setelah aku keluar kamar dan menyusul duduk di ruang tamu.

Ini pertama kalinya, Noona.

“Seharusnya kamu mengunci pintu. Bagaimana jika yang masuk ke kamarmu tadi bukan aku? Ha!”

Maksud Noona, Kim Namjoon yang akan masuk ke kamarku lalu mencekikku, begitu?

“Apakah aku sudah bilang maaf?” tanyanya kemudian.

Aku belum sedikit pun membuka mulut untuk menjawab berondongan pertanyaan noona.

“Maaf untuk kejadian barusan, juga maaf untuk perlakuan Namjoon yang mungkin tidak seharusnya. Hm, maksudku, memang tidak seharusnya.”

Noona tidak bilang kalau hari ini akan pulang. Syukurlah, setidaknya aku akan menemukan sarapan di meja makan. Noona tidak bekerja?”

“Jimin-a….”

“Kemarin aku tidak sarapan karena Noona tidak ada. Apakah sarapan memengaruhi kejadian buruk di hari itu? Karena aku mengalaminya. Malamnya, aku makan bersama teman baruku. Lumayan juga.”

“Jimin-a. Kita sedang membicarakan hal berbeda, sepertinya.”

“Aku tidak apa-apa, Noona. Tenang saja,” ucapku sambil tersenyum.

“Kita harus menyelesaikan satu per satu yang belakangan ini terjadi, Jimin-a. Jangan menghindar.”

“Aku hanya menghindari sesuatu yang bukan urusanku.”

[17]

Ruri Noona adalah dunia Kim Namjoon. Mereka berteman sejak masih kecil. Kim Namjoon sering dijuluki monster oleh teman-temannya karena sering sekali merusak barang, dan noona selalu datang untuk membenahi kerusakan itu.

Aku pernah merasa diabaikan oleh noona karena ajakanku bicara tidak disambut. Ya, itu adalah beberapa hari setelah aku tinggal di rumah ini tetapi tidak ada obrolan dengannya. Ternyata pagi itu, noona terburu-buru menuju tempat tinggal Kim Namjoon. Pemanas air rusak dan pintu kulkas tiba-tiba tidak bisa ditutup setelah sebelumnya ditendang dengan pelan.

Barangkali, Kim Namjoon juga dunia noona. Ingat saat aku demam malam-malam? Dia adalah laki-laki yang menembus dingin demi noona. Sementara noona memanggilnya demi aku.

Aku tidak begitu paham dengan hubungan mereka. Kemarahan Kim Namjoon beberapa hari lalu kepadaku, menegaskan kalau mereka bukanlah sepasang kekasih. Cemburunya menegaskan cinta dan tidak mau dinomorduakan, lebih-lebih ditinggalkan.

Ruri Noona lebih banyak bercerita lagi sambil menyiapkan sarapan. Aku pura-pura tidak mendengarkan dengan melanjutkan membaca buku Aesop. Tapi dia tahu aku menyimak.

“Kucing itu?” tanyaku.

“Oh, iya. Aku membawanya ke dokter hewan karena Namjoon sedang mengurus kerja sama dengan Yoongi. Belum sempat kuantarkan ke rumahnya, orang kantor meneleponku. Ada rekan kami yang melahirkan prematur. Jadi, aku terburu-buru ke rumah sakit. Aku bahkan tidak sempat pulang ke rumah karena kerjaan di kantor juga sedang banyak-banyaknya.”

“Ha? Mengantar kucing ke rumahnya? Maksud Noona rumah Kim Namjoon?” Kali ini aku sudah tidak bisa pura-pura tidak menyimak ucapannya.

“Iya, rumahnya. Kenapa, Jimin-a?”

“Aku kira kalian tinggal bersama.”

“Dia bilang, kamu anak yang manis. Terlalu manis malah. Dan itu membuatnya cemburu. Dia tidak tahu sisi lain dirimu, kurasa. Selain manis, juga terlalu lugu. Jangan langsung percaya dengan sesuatu yang dilihat matamu. Ini bukan pertama kalinya, kan? Kamu senang sekali menebak-nebak.”

Aku kehilangan kata-kata.

“Sarapan sudah siap. Katamu, sesuatu yang baik bisa diawali dengan sarapan. Letakkan buku itu, dan ayo makan bersama. Aku harap hari ini lebih baik.”

“Harus! Hari ini sangat kutunggu. Ada kompetisi dance.”

Ketakutan kehilangan seperti yang dirasakan Kim Namjoon, apakah aku punya? Tidak. Menyerahkan sebagian diri kepada orang lain, apakah aku bisa? Tidak.

Kim Namjoon sekaligus menyadarkanku, sekalipun aku dan noona bersaudara, aku tidak bisa bergantung kepadanya.

Aku tidak boleh merebut dunia orang lain.

Aku tetap dan lagi-lagi, memang harus selalu sendiri.

“Bagaimana sarapannya? Enak?” tanya noona sambil tersenyum.

Senyum yang manis sekali.

“Sangat!”

[18]

Aku melihat Kim Taehyung sibuk dengan laptopnya. Dia tampak serius. Sangat serius. Perempuan yang kemarin berteriak dan menjadi pusat perhatian, berada di balik meja. Dia menatap Kim Taehyung.

Apakah pertemuan dengan perempuan itu yang justru semakin memupuk rindu, seperti yang dibilang Kim Taehyung kemarin?

Lalu, laki-laki itu datang. Perempuan tadi tidak lagi melekatkan pandangan kepada Taehyung, beralih kepada laki-laki yang ada di depannya. Mereka sepertinya ngobrol dengan baik. Saling bertukar tawa.

Dia Min Yoongi. Tidak salah lagi. Teman Kim Namjoon yang beberapa pagi lalu mengambil sup rumput laut untuk pacarnya.

Apakah dunia sesempit ini? Orang-orang yang belakangan kutemui, terkumpul di satu tempat.

Aku melanjutkan berjalan, setelah beberapa saat lalu terpaku menatap mereka dari luar kafe.

Dan, dunia semakin menunjukkan sempitnya setelah dari arah berlawanan aku menemukan sosok Jungkook yang melambai ke arahku.

“Aku akan beli kopi. Apakah Hyung mau?” tawarnya setelah kami semakin dekat. Tepat di depan pintu masuk.

Aku menoleh dan melihat suasana di dalam. Masih seperti tadi.

“Boleh,” jawabku.

“Baik, tunggu di sini. Aku akan segera kembali.”

Dia masuk ke dalam, sementara aku melangkah menjauh.

Jhope Hyung dan Hana menunggu dukunganku.

Jimin-a, kamu bergegas karena tidak ingin bertemu Kim Taehyung, bukan?

[19]

Setelah menyapa Jhope Hyung dan Hana di belakang panggung, akhirnya aku menuju kursi penonton. Aku optimis kompetisi dance hari ini akan berjalan lancar. Hampir setiap hari ketika latihan, aku menyaksikan mereka.

Iya, hanya menyaksikan.

Jungkook yang sebelumnya kutinggal jalan duluan, akhirnya menampakkan diri. Matanya mencariku. Tak lama kemudian, dia memamerkan deretan gigi kelinci dan menuju tempatku duduk. Dia tidak protes karena aku meninggalkannya. Hm, anak yang baik.

Lalu, aku melihatnya.

Kim Taehyung.

Ada urusan apa dia datang hari ini? Astaga aku tidak siap bertemu dengannya. Justru lebih siap beberapa hari lalu setelah aku membentaknya.

Aku sudah berusaha tidak menatapnya. Bahkan mengalihkan ke tempat lain, sekeliling dengan kursi yang semakin banyak dipenuhi orang. Sialnya, si gigi kelinci justru melambai-lambaikan tangannya.

Hyung! Di sini!” Masih dengan tangan melambai, Jungkook berseru kepada Taehyung.

Aku melirik dan, yah, ada yang alpa dari penglihatanku tadi. Di tangan Jungkook ada hazelnut latte. Identitas Taehyung.

Jungkook berpindah tempat. Meluangkan tempat duduknya untuk Taehyung, dan itu artinya tempat dudukku dan Taehyung bersisian.

“Halo, Jimin-a,” sapa Taehyung dengan nyengir-mata tertutup-seperti alien.

Taehyung yang seperti biasanya.

Aku berani bertaruh, degup jantung gugupku bisa dibandingkan dengan Jhope Hyung yang sebentar lagi akan memasuki panggung.

“Santailah sedikit. Hana akan melakukan yang terbaik. Untukmu, Jimin-a!” bisiknya usil.

Rasanya aku ingin lari dari tempat ini. Sungguh!

[20]

1… 2… 3…!

Hyung, seharusnya aku yang memegang kamera,” ucap Jungkook.

“Tidak apa-apa.”

“Kemarikan, sekarang Hyung yang gantian di sana dan aku akan mengambil foto kalian,” Jungkook mengambil alih kamera, yang itu membuatku harus berdiri di dekat Taehyung.

Setelah hitungan ketiga, kami berpose manis. Tapi aku tidak yakin memamerkan wajah seperti itu.

Apakah kamu bisa membayangkan dua kegugupan bersatu? Nah, itu yang kurasakan. Dadaku rasanya ingin meledak.

Jhope Hyung sudah terlihat mabuk. Racauannya semakin tidak jelas. Aku hanya minum sedikit, begitu pula dengan Hana. Taehyung tidak suka alkohol, dia memilih kola. Jungkook? Usianya masih menuntut untuk minum susu pisang.

Ponsel Taehyung berdering. Dia mengangkat dan memberi isyarat dengan tangannya untuk menjauh beberapa saat. Tak lama kemudian, dia muncul dengan wajah sumringah.

“Aku akan bertemu dengan kurator. Maaf tidak bisa di sini lebih lama. Sekali lagi, selamat Hyung dan Hana. Kalian sangat keren,” ujarnya, lalu menengok ke arahku dan Jungkook. “Aku duluan, ya! Sampai ketemu lagi.”

Kita belum sempat bicara berdua, Taehyung-a.

“Aku tidak tahu kalau Hyung berteman dengan Taehyung,” kataku memulai pembicaraan, setelah Taehyung pergi.

“Taehyung? Siapa dia? Aku tidak mengenalnya,” jawab Jhope Hyung sambil mengerutkan kening hingga alisnya bertemu.

Ah, dia sudah benar-benar mabuk.

“Oh, anak tadi. Beberapa waktu lalu, dia datang ke tempat latihan. Aku tidak tahu dari mana dia menemukan tempat itu. Dia mengaku sebagai temanmu dan meminta tolong kepadaku agar mencarikanmu partner dance untuk kompetisi.” Jhope Hyung mengatakan itu dengan sangat ringat. Matanya hampir terpejam.

Sementara itu, ada yang sangat berat di dalam dadaku.

Hana menendang kaki Hyung. Aku tahu dari meja yang tiba-tiba bergetar.

“Yha! Kenapa kau menendangku!” Seruan itu ditujukan untuk Hana. “Kamu tahu? Teman-temanku sangat banyak, tetapi aku tidak yakin kamu akan cocok dengan mereka. Lalu Kim Taehyung yang awalnya meminta tolong, justru menyodorkan sebuah nama. Aku tidak perlu menjelaskan tentang siapa dia, kan?” lanjut Jhope Hyung, mengarahkan matanya kepadaku, kemudian ke Jungkook.

Aku merasa ada banyak kekikukan di sini. Hawa yang tadi tidak nyaman, semakin menjadi-jadi.

“Jimin-a….” kata Hana, lirih.

“Hyung tahu sesuatu?” Aku bertanya memastikan.

“Tentang? Oh, kamu bisa menari? Aku melihatmu beberapa kali di ruang latihan. Dan Jungkook akan membantumu….”

Kalimat itu belum selesai, tapi hyung sudah ambruk.

Semua kehilangan kata-kata. Hana menatapku dengan takut, Jungkook sibuk dengan minumannya yang sudah tandas.

Aku beranjak, meninggalkan mereka.

Tidak ada yang mencegah atau memanggilku untuk kembali. Jika itu terjadi, aku juga tidak akan melakukannya.

Aku meredam semuanya. Berpikir jernih tentang kebaikan-kebaikan yang diniatkan mereka untukku. Juga bagaimana hyung yang juga tahu rahasiaku, menyimpannya rapat-rapat sampai alkohol yang membongkar semuanya.

Seberapa pun aku bersikeras tentang kebaikan mereka, justru dadaku semakin sesak.

Aku tidak boleh menangis. Tidak.

Mereka tidak sedang mengasihaniku. Tuhan, tolong yakinkan hatiku. Mereka tidak sedang kasihan kepadaku.

Aku memohon sekaligus menyangkal.

-bersambung-

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *