BTS, Catatan, K-Pop

Love Yourself: What Am I to You [11-15]

 

[11]

Penerimaan yang sepertinya sudah sangat dekat dan akrab, mendadak terasa jauh. Penolakan justru berasal dari orang asing, dan tidak penting.

Tapi sangat mengganggu.

Kim Namjoon.

“Sudah lama?” tanyanya.
“Ha?” tanyaku balik. Aku masih terkejut.
“Kamu merebut Ruri dariku. Sadar?”
“Ha?”
“Usiamu berapa?”
“20,” jawabku polos.
“Apa usia 20 punya kegemaran bilang ‘ha’ begitu?”
“Ha? Em… tunggu sebentar…. Apa aku harus memanggilmu hyung?”

Pertanyaan macam apa ini? Di situasi semacam ini? rutukku.

“Sebelumnya Ruri hanya untukku. Lalu tiba-tiba kamu datang. Aku sudah nyaris, Jimin. Nyaris mendapatkannya.”

***

Aku seperti ingin menyapa 20 tahunku yang kutinggalkan beberapa waktu lalu. Meskipun tidak begitu baik di sana, tetapi di sini aku juga tidak lebih baik.

Atau memang dewasa membawa banyak petaka?

Awalnya aku hanya bermasalah dengan diriku sendiri. Kini, banyak yang datang bertubi-tubi.

Kim Namjoon tidak bicara banyak. Setelah mengagetkanku dengan tuduhan semena-mena dan memberondong tertanyaan tanpa aba-aba, dia langsung membawa kucing yang tadi kubawa.

Calico itu miliknya, barangkali. Betapa malangnya calico yang manis harus dirawat “seorang naga”.

Ada dugaan dalam pikiranku. Ingin kusimpan saja, tapi sesungguhnya ini mengusik.

Ah ya, barangkali aku terlalu muda untuk semua ini.

Tapi, apakah selama ini Ruri Noona dan Kim Namjoon tinggal bersama?

[12]

“Hai!”

Aku melambaikan tangan menunjukkan keberadaan. Dia membalas mengangkat tangan, mengangkat alis sambil tersenyum aneh seperti biasanya. Sebelum menujuku, aku menangkap matanya melirik seseorang.

“Kamu selalu datang lebih awal,” ucapnya sambil menarik kursi di hadapanmu. Duduk.

“Oh, sebentar. Aku harus mengambil pesanan, alat ini sudah bergetar,” ucapku sambil menunjukkan alat yang memunculkan getar serta kerlip merah. “Atau kamu yang akan mengambil?”

Dia pura-pura tidak mendengarku. Malah meneliti pinggiran meja seperti mencari kesibukan.

Sialan!

Aku sudah kembali di hadapannya. Dia terkekeh.

Hazelnut latte kusodorkan.

“Aku hampir setiap hari di sini. Selalu memandangnya, Jimin-a. Anehnya, rindu itu justru semakin menumpuk di sini,” ucap Taehyung sambil menunjuk dadanya.

Ya Tuhan, anak ini kenapa? Apakah pameran foto tunggal membuatnya sangat bahagia hingga mengarah ke kegilaan?

Setelah pertemuan beberapa waktu lalu, kami memang lebih sering komunikasi. Dan Taehyung memilih hari ini juga di tempat ini untuk bertemu kembali.

“Apakah kamu masih lebih sering di ruang latihan daripada nongkrong di kafe sepertiku?” Kini dia mengajukan pertanyaan yang lebih masuk akal.  “Jika iya, berarti kamu tidak banyak berubah, Jimin-a.”

Aku masih melakukan itu, dan sudah sangat banyak yang berubah.

“Dia masih tidak tahu kamu menyukainya? Itu sudah lama, Jimin-a. Ayolah….”

“Perempuan yang barusan kamu maksud, apakah ada di sini? Yang katamu kamu pandangi setiap hari.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan. Bagaimana kakimu?”

Pernyataan yang terlalu tiba-tiba. Mendadak, aku merasakan ada angin sangat dingin ditiupkan ke tengkukku.

“Taehyung-a, kita sudah lama tidak bertemu. Kumohon jangan membahas itu.”

“Kamu tetap tidak berubah. Selalu menghidar.”

“Kamu tidak pernah tahu rasanya berada di posisiku, Taehyung-a! Tidak pernah!”

[13]

“Kenapa kalian tidak mengajaknya bicara? Dia temanku, seharusnya kalian tidak begitu.”

Aku mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke sosoknya yang ada di hadapanku. Dia menghadap orang lain.

“Jimin-a! Kenapa kamu sibuk mainan ponsel?” Sekarang dia menatapku.

“Tidak apa-apa Taehyung-a. Tidak apa-apa.”

“Lain kali tidak boleh seperti ini lagi. Ajak ngobrollah. Kalian temanku, dia juga temanku. Kita semua berteman. Okay?!”

Dua orang yang sedang “diintimidasi” itu menoleh ke arahku. Mereka tersenyum hangat.

Barangkali jika tidak ada Taehyung, aku tidak akan menerima senyum itu. Tidak akan mendapatkan pertemanan yang baik dengan mereka.

Taehyung. Dia sangat banyak memberi. Sangat banyak. Aku hanya dan selalu menerima.

Temanku tidak banyak. Bahkan bisa dibilang tidak punya. Aku sering kikuk untuk memulai pembicaraan, dan sering malu berhadapan dengan orang baru. Bisa disebut minder, meskipun aku tidak ingin mengatakannya.

“Kamu tidak bisa hidup sendiri. Sekarang, kita berteman. Selamanya. Okay!”

Berlari lebih ke belakang, itu obrolan pertamaku dengan Kim Taehyung.

Sejak itu, temannya adalah temanku. Meskipun aku hanya bisa dekat dengan Taehyung dan berani bercerita tentang diriku yang sebenarnya, juga tentang rahasia-rahasia yang awalnya kusimpan sendiri. Jika tidak ada dia, aku tidak tahu rasanya ringan berbagi beban.

Dan hari ini, untuk pertama kali aku membentaknya.

***

“Ya! Bisakah kalian tidak berteriak seperti itu?”

Ternyata ada teriakan yang lebih menarik perhatian pengunjung kafe daripada teriakanku sebelumnya kepada Taehyung.

Semuanya seperti beku. Dingin di luar menjalar hingga ke dalam kafe.

Taehyung berdehem. Menyadarkanku, menyadarkan semuanya. Aku berdiri dari duduk dan melangkah keluar. Tatapanku sempat menangkap sekilas perempuan yang barusan berteriak, juga kasak-kusuk sekeliling kami.

Dalam perjalanan pulang itu, aku kembali mengingat perkenalan pertamaku dengan Taehyung. Bagaimana dia mengenalkanku dengan teman-temannya, meyakinkanku untuk percaya diri, dan yang paling penting, dialah orang yang meyakinkan bahwa kakiku akan baik-baik saja untuk diajak menari.

Aku berbalik arah. Kembali berjalan menuju kafe. Oh bukan berjalan, aku berlari.

Lalu terlambat.

Taehyung sudah tidak ada.

“Eh… kamu yang ada di depan pintu,” panggil perempuan di balik meja kasir.

Dia bukan perempuan yang tadi berteriak.

Aku agak melotot karena kaget, dan menunjuk diriku sendiri. Memastikan bahwa yang dia maksud adalah aku. Sementara itu, untuk entah ke sekian kalinya, semua orang menatapku. Lagi.

Begitu sampai di depanku, perempuan itu menyodorkan sebuah kertas, “Ada pesan buatmu.”

Ada yang tidak berubah, aku tahu kamu pasti kembali. Lalu membaca pesan ini.

Ada yang tidak berubah, tentang rahasia-rahasiamu yang masih rapat kamu simpan sendiri.

Ada yang banyak berubah, kita sudah semakin dewasa ternyata.

Ada yang banyak berubah, kamu sudah berani membentakku.

Iya, aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kejadian hari ini.

-Kim Taehyung-

[14]

You make me begin
You make me begin
You make me begin
(smile with me, smile with me, smile with me)
You make me begin
(smile with me, smile with me, smile with me)*

Anak laki-laki itu menyanyi dengan sangat baik. Vokalnya stabil meskipun dibarengi gerakan kaki yang sangat rumit.

Menyilang, menyilang, maju, ke kanan, menyilang, menyilang, mundur, ke kiri, dan lagi, berulang-ulang.

Halo, apa kabar kakiku? Mampukah kamu seperti itu?

“Oh, Hyung sudah datang?” Dia melihatku dari pantulan cermin di ruang latihan. Entah sudah berapa lama suara dan gerakannya disudahi.

Aku sedikit terkejut karena sebelumnya sibuk dengan pikiran sendiri.

Dia berbalik, berjalan ke arahku, lalu tersenyum menunjukkan gigi kelincinya.

“Jungkook. Joen Jungkook. Orang-orang biasa memanggilku Kookie. Hyung juga boleh,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
“Jimin. Park Jimin,” kataku, menyambut tangannya.
“Aku akan sering datang. Berlatih di sini.”
“Apakah….”
“Oh… Jhope Hyung belum mengatakan sesuatu?” tanyanya.

Aku terakhir kali bertemu Jhope Hyung ketika makan malam bersama Hana, sepertinya. Dan dia tidak berkata apa pun. Apalagi tentang anak ini.

“Besok kompetisi Jhope Hyung dan Hana Noona. Aku sangat semangat ingin menyaksikan penampilan mereka. Sekaligus berdebar-debar. Untuk kompetisi selanjutnya, kita harus lebih hebat! Semoga kita menjadi partner dance yang keren! Aku butuh bimbingan Jimin Hyung!”

Semangat anak ini diturunkan dari mana sih?

Dia kembali mengulurkan tangan sambil tertawa. Aku menerima tangannya kembali. Lagi-lagi dengan semangat ia menggenggam erat tanganku dan menguncang-guncangkan, dengan lebih semangat.

Tunggu dulu. Apa ini? Kompetisi dance selanjutnya?

Kami?

Aku?

“Aku bukan penari.”

.
.
.

*begin_jungkook

[15]

“Aku sarapan oat dicampur irisan apel hampir setiap pagi. Itu cukup mengenyangkan, meskipun tidak selalu menyenangkan.”

Jungkook memulai obrolan. Anak ini cukup banyak bicara dan tidak berhenti bergerak. Sembari berjalan, dia sering menggoyang-goyangkan tangan, pundak, dan gerakan menari patah-patah. Dia benar anak-anak. Dan, bolehkan aku bilang kalau dia agak aneh?

“Aku tidak pernah ambil pusing dengan sarapan. Hampir setiap pagi, aku tinggal menuju meja makan dan sudah tersedia di sana. Kecuali pagi tadi.”

“Wah… hidupmu enak sekali, Hyung. Kamu tinggal besama orang tua, ya? Bolehkah aku menginap agar pagiku lebih bervariasi?” pintanya.

“Aku tinggal bersama keluarga,” ucapku lirih sekali, karena… ragu-ragu.

“Keluarga? Hmmm….”

“Apakah tidak aneh membicarakan sarapan di malam hari dingin begini?” potongku dengan melontarkan pertanyaan lain.

“Hahaha… sebenarnya aku gugup sekali bertemu dengan Hyung. Aku cukup pendiam,” ucapnya sambil menggaruk belakang kepalanya. “Tapi kata Jhope Hyung, Jimin Hyung lebih pendiam dibanding aku. Jadi tolong hargailah usahaku yang hari ini lebih cerewet daripada biasanya.”

Jadi gerakan anehnya dari tadi karena gugup?

“Ini terlalu dingin. Kenapa juga aku menurutimu jalan-jalan.”

“Kita akan mencari kehangatan. Kita akan makan! Di ruang latihan, hmmm… suasanya kurang menyenangkan untuk pertemuan pertama kita. Hehe….”

“Hari ini aku sudah dua kali menjadi monster. Pertama untuk teman lamaku, kemudian untuk temanku yang sangat baru. Maaf….”

“Ah… tidak… tidak… Hyung. Jangan minta maaf. Dalam pertemanan, pantang ada kata maaf.”

“Kata siapa?”

“Aku lupa menemukan kalimat itu di mana….”

“Aku pernah membaca juga. Bukan dalam pertemanan, tapi dalam cinta.”

“Oh… sudah berubah, ya?” ucapnya sambil nyengir dan deretan gigi kelinci itu terlihat lagi.

Aku ingin sekali menjitaknya.

***

Kami menghangatkan badan dengan makan ramen. Hening. Kami sibuk dengan hidangan di hadapan masing-masing, atau sebenarnya otak sedang berpikir akan memulai pembicaraan apa, setelah tema sarapan yang cukup aneh sebelumnya.

Aku bertanya usianya, dia bertanya usiaku, aku bertanya apa kesibukannya, dia bertanya apa kesibukanku. Cukup kaku, lebih-lebih setelah dia mengulurkan sebuah pamflet yang berisi tentang kompetisi dance.

“Aku sudah bilang, aku bukan penari.”

“Semuanya bisa dilatih, Hyung. Bukankah Hyung juga sering melihat Jhope Hyung dan Hana Noona? Ayolah….”

“Kookie-a….”

“Saat kecil, apakah Hyung langsung bisa berjalan? Tidak, kan? Ada latihan yang membuatnya bisa. Lalu, apa salahnya dengan menari?”

“Ini berbeda, Kookie-a. Aku lelah berdebat. Niatku ke ruang latihan agar bertemu ketenangan. Tapi ini justru….”

“Baiklah. Kita bicarakan ini lain kali,” ucapnya sambil tersenyum.

Aku mengembuskan napas lega.

“Tapi, menunda bahkan menghindar tidak pernah menyelesaikan apa pun, Hyung.”

-bersambung-

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *