BTS, Catatan, K-Pop

Love Yourself: What Am I to You? [1-5]

[1]

Aku melepas 20 tahunku, meninggalkan di suatu tempat, lalu melanjutkannya di sini. Atau, bisakah ini disebut memulai kembali?

Desember yang dingin, seperti tatapannya ketika melihatku menginjakkan kaki di rumahnya, rumah kami. Meskipun ini tidak baik-baik saja, aku tetap berharap bahwa prasangkaku salah. Semoga.

Hyorin Noona menikah dengan laki-laki yang menurutku terlalu tua. Ada niat menentang. Hanya saja ketika hyung meminta izin kepadaku, dan aku melihat ada kesungguhan di matanya, aku tidak bisa menolak. Mereka yang saat itu duduk di hadapanmu memang terlihat saling mencintai.

Di mataku, hyung seperti Appa. Mungkin itu juga yang dilihat  Hyorin Noona.

Ah, apakah cinta orang dewasa seperti itu? Apakah menerima semudah ini?

Lalu, aku seperti di balik oleh keadaan. Kehadiranku, atau mungkin kami, yang sepertinya sulit diterima olehnya.

“Jimin-a, kami akan segera berangkat. Keluarlah,” ucap Hyorin Noona.

Malasnya….

“Jimin-a….” panggilan itu datang sekali lagi.

Hyung dan Hyorin Noona sudah siap dengan kopernya masing-masing. Ini akan menjadi perjalanan yang panjang. Bisnis sekaligus honey moon. Ya, bisa dibilang seperti itu.

“Jimin-a, maaf tidak bisa menemani hari-hari awalmu di sini. Setelah urusan ini selesai, mari kita melakukan banyak hal bersama. Dan Ruri, temani Jimin di rumah. Ingatlah untuk pulang ke sini, bukan tempat tinggalmu yang lebih dekat dengan tempat kerja itu. Sekarang kalian adalah saudara.” Hyung memberi pesan.

“Semoga hari-hari kalian menyenangkan, ya….” kata Hyorin Noona.

Aku mengangguk lalu tersenyum. Sementara dia… hmmm… wajahnya tidak terbaca. Tidak ada ekspresi.

***

Kamar kami berdampingan. Ketika pintu dibuka, aku bisa mendengar dengan jelas. Dia memilih keluar kamar ketika tahu aku ada di dalam kamar. Juga sebaliknya. Hingga akhirnya, pintu berderit yang disusul aktifitas di dapur.

“Laparnya…,” kataku yang hanya sampai pada telingaku sendiri. Kasihan sekali.

Aku menatap luar melalui jendela. Dingin di sana seperti berkompromi sehingga semakin menyiksa keadaanku. Walapun sebenarnya, ada yang jauh-lebih-dingin-di-dalam-sini.

Kemudian, ada kertas yang masuk melalui celah bawah pintu kamarku. Aku beranjak dan membaca pesan di sana.

Keluar. Makanlah.

Aku keluar, menuju meja makan. Rumah tetap sepi, sepertinya dia sudah kembali ke kamarnya. Di hadapanku, ada sup daging yang masih mengepulkan asap.

Aku merasa ada yang hangat, bahkan sebelum makanan itu sampai di perutku.

[2]

Aku melihat perempuan itu melongokkan kepala dari balik pintu. Tersenyum. Lalu berjalan menghampiri. Tangannya membawa kue tar lengkap dengan lilin menyala.

“Jimin-a, bukankah ulang tahunmu sudah Oktober lalu?” tanya Jhope Hyung, menoleh kepadaku. Dia menghentikan gerakan dance.

Kuturunkan handphone yang kupakai untuk merekam Jhope Hyung menari. Menekan tombol pause.

“Apakah kue tar harus identik dengan ulang tahun?” jawabnya dengan mengajukan pertanyaan lain. “Pejamkan matamu, buat permintaan, lalu tiup lilin.”

Kue itu bukan untukku.

Ah ya, aku ingin bertanya kepada Tuhan, normalkah merayakan ulang tahun lebih cepat beberapa bulan? Februari masih agak jauh.

***

“Jimin-a, bagaimana rasanya tinggal di rumah baru?”

Jhope Hyung, bagaimana rasanya mendapat kue tar dari perempuan cantik, padahal jelas-jelas Hyung tidak ulang tahun? batinku.

“Apakah ada masalah?” lanjutnya.

“Daging. Dari mana dia tahu kalau aku suka daging?”

Kening Hyung berkerut menyimpan tanya, lalu bibirnya menyunggingkan senyum. “Okay, ceritakan lengkap. Aku akan mendengarkan dengan baik. Hahahaha….”

“Namanya Ruri Noona. Aku tidak bisa bilang kalau dia membenciku, atau menolak kehadiranku dan Hyorin Noona dalam hidupnya. Hanya saja…. Ya, seperti itulah.”

“Lalu daging?”

“Nah! Hubungan kami ada di daging. Hari pertama kedatanganku di rumah, dia membuatkan sup daging yang sangat enak. Kukira setelah itu akan ada komunikasi di antara kami. Nyatanya tidak. Rumah di pagi hari sepi, sepertinya dia berangkat kerja di pagi buta agar tidak berpapasan denganku. Hahaha. Dia menyiapkan makanan dengan baik untukku sarapan. Lalu malamnya, dia akan pulang sangat larut. Aku tahu kedatangannya, tapi terlalu takut untuk menemui. Dia memberiku pesan lewat bawah pintu kamar, seperti hari sebelumnya. Memintaku keluar untuk makan. Hanya di sana komunikasi kami. Bukan bahasa lisan. Luar biasa, bukan?”

“Hm….”

“Dan, daging lagi. Hahaha. Makan malam steak memang tidak buruk. Jika saja ada obrolan, pasti akan lebih menyenangkan. Tapi perlakuannya sangat dingin. Makanan tidak lagi membuatku hangat, Hyung.”

“Jimin-a, aku tidak pernah berada dalam posisimu. Jadi, nasihat yang kuberikan pun pasti tidak akan berdampak banyak. Aku berharap semoga semua semakin baik. Okay!” kata Jhope Hyung sambil tersenyum, seperti menyalurkan energi bahagia.

“Ya, Hyung.”

“Jimin-a, bisakah hari ini kita pulang bersama?”

“Ah, Hyung duluan saja. Masih ada yang aku urus,”

“Baiklah! Sampai bertemu besok.”

Hyung meninggalkan ruang latihan. Lengang. Aku melihat bayanganku sendiri di cermin.

Inilah waktuku.

***

Noona, bisakah kita bicara?

Pesan itu kumasukkan ke celah bawah pintu kamar Ruri Noona, seperti caranya selama ini.

Aku sengaja tidur-tiduran di kursi ruang tamu, menunggu kedatangannya sambil melanjutkan membaca komik hadiah dari Jhope Hyung. Katanya sebagai perayaan tinggal di rumah baru.

***

Kim Taehyung, salah satu temanku ketika SMA pernah bilang kalau ingin cepat tidur, bacalah buku. Sepertinya itu berlaku untukku. Dan aku merutuki hal ini.

Aku tidak mendengar kedatangan Ruri Noona semalam. Barangkali aku terlalu keras berlatih kemarin, sehingga komik yang kubaca seperti bius ampuh pengantar tidur.

Ruri Noona pagi ini sudah tidak ada di rumah. Sepi sekali.

Pesanku dibaca. Sekarang keberadaannya berpindah ke tempat sampah samping pintu kamar Ruri Noona.

Antara ditolak atau diabaikan, mana yang lebih pantas menggambarkan keadaanku sekarang?

[3]

Ada yang bilang, setiap orang mempunyai warna. Bolehkah warna itu dipilih? Aku ingin biru dari sekian banyak warna yang ada.

Laut.
Langit.

“Jimin-a, apa cita-citamu sekarang?”

“Ingin seperti Appa.”

“Bukan itu maksudnya….”

“Penari. Suatu hari nanti, Appa harus melihatku tampil di panggung yang sangat megah!”

Pertanyaan Appa bukan tanpa alasan. Seperti kebanyakan anak kecil lainnya, cita-cita sering kali berubah. Usia belia memberikan banyak sekali kemungkinan. Hingga waktu menunggu, seseorang menyerah kepada pilihan “asalkan bahagia”.

“Makanan sudah siap, cepat bersihkan pasir dari kaki kalian!” teriak Eomma dari kejauhan.

Aku sangat menunggu hari itu, hingga malamnya tidak bisa tidur. Pagi-pagi sekali, kutunggui Eomma menyiapkan bekal kami. Dan, makanan yang dikemas rapi tadi, sudah memenuhi tikar yang digelar.

Aku ingat semua rasa masakan hari itu—yang kemudian tidak pernah lagi kutemui rasa yang sama. Kelakar Appa yang menggoda Hyorin Noona karena beranjak dewasa. Juga, biru langit dan laut tanpa garis pemisah di ujung sana.

Terik matahari dan lembap dari percikan ombak, sangat membahagiakan. Awalnya.

“Apakah kamu sangat mengagumi karyaku?” Suara itu mengembalikanku ke kenyataan. Aku menoleh dan melihat cengiran khas dari wajah—yang sesungguhnya, tampan.

“Taehyung-a! Selamat atas pameran foto tunggalmu!” ucapku, menyalami dan memberi pelukan singkat.

“Ya… ya… ya… kamu orang keseribu sekian yang memberi selamat. Hahaha….”

“Sebenarnya aku ingin menyapamu lebih awal, tapi kamu terlalu sibuk dengan teman-temanmu yang sangat banyak itu.”

“Jangan cemburu, Jimin-a! Hahaha… bagaimana? Ini langkah awalku mewujudkan cita-cita yang pernah kita bicarakan saat SMA dulu,” ucapnya sambil nyengir, membuat matanya hilang.

“Keren! Sangat keren!”

“Aku sudah memulainya, Jimin. Mari menjadi lebih keren bersama-sama.”

“Orang pertama yang mendukung dan mengidolakanmu adalah aku. Teruslah menjadi lebih hebat!”

Jangan menungguku….

“Pokoknya aku tetap menunggumu melakukan sesuatu. Ah ya. Jimin, kudengar kamu pindah rumah.” Taehyung mengalihkan topik pembicaraan.

“Iya. Noona menikah, jadi kami pindah ke rumah suaminya.”

“Begini. Aku ingin sekali berbicara banyak denganmu….” ucapnya menggantung.

“Ada laki-laki di sana yang sepertinya mencarimu. Ini adalah harimu, temui mereka dan kita bisa melanjutkan bicara di lain hari.”

“Oh, itu Minho Hyung….” Taehyung melambaikan tangan kepada laki-laki yang sedari tadi mencari keberadaannya. “Aku akan menghubungimu secepatnya, Jimin!”

Taehyung berbalik, meninggalkanku. Ada banyak hal yang tidak berubah darinya. Senyumnya, tingkahnya. Kecuali teman-temannya yang semakin banyak. Dia memang mudah menarik perhatian. Percaya diri tinggi, juga sifat aneh alien yang menjadikan magnet bagi siapapun untuk menempel.

Aku kembali melihat foto di hadapanku.

Sea, photo by Vante

Kenangan di sana, sudah lama sekali.

[4]

Kamu tahu? Ada rahasia yang tidak bisa selamanya kamu simpan sendiri. Aku telah membaginya tanpa sengaja, baru saja.

***

Jhope Hyung dan perempuan itu baru saja keluar. Aku sengaja untuk tetap tinggal dengan alasan ada yang ingin kubereskan. Padahal seperti biasa, aku akan memutar video latihan dance hyung. Memerhatikan, lalu memraktikkan.

Aku berhenti jika sudah terlalu.

Hanya saja, berbeda dengan malam itu. Aku terlalu fokus dengan bayangan di cermin, memerhatikan gerakan demi gerakanku seperti yang dilakukan Jhope Hyung saat menari.

Tubuh sudah berpeluh, tapi kaki yang tidak cukup tangguh ini masih sanggup.

Musik berhenti. Tanganku baru saja ingin menyentuh tombol rewind, dan aku melihat pantulan dirinya di sana.

Sudah berapa lama?

“Ha… Hana… bukankah Jhope Hyung sudah mengantarmu pulang? Kenapa kamu masih di sini?” tanyaku, setelah berbalik dan menatapnya langsung, tidak lagi melalui cermin.

“Jimin-a….” ucapnya lemah.

Dia ambruk. Wajahnya sangat pucat.

“Hana! Tu… tunggu sebentar aku akan segera kembali.”

Aku membuka pintu ruangan dan langsung disambut angin dingin. Dengan kaos basah penuh keringat dan tanpa alas kaki, aku berlari menuju jalan raya mencari taksi. Mataku menangkap Jhope Hyung. Dia setengah berlari menghampiriku, di tangannya ada plastik putih bertuliskan nama apotek di seberang jalan.

Hyung…. Hana….”

“Cepat cari taksi, biar aku yang ke dalam!” perintahnya.

Aku berdiri sejenak di pinggir jalan. Perlu waktu untuk mendapatkan taksi. Sepertinya dingin yang terlalu membuat orang-orang memilih transportasi itu.

Yha! Dapat! Aku meminta sopir menunggu sebentar.

Ketika berbalik, Jhope Hyung sudah berlari menujuku. Hana ada di gendongannya.

“Jimin-a, biar aku yang mengurus Hana.”

Pintu taksi ditutup. Mereka berlalu.

Hawa dingin mengepungku. Bahkan sampai di sini, di hati.

-spesial ultah kim seokjin-

Maybe I, I can never fly

Jeogi jeo kkoch-ipdeulcheoleom

Nalgael dan geoscheoleomeun an dwae

Maybe I, I can’t touch the sky

Geulaedo son ppeodgo sipeo

Dallyeobogo sipeo jogeum deo*

Melewati lorong, aku melihat sekumpulan orang berdesakan di luar pintu. Langkahku terhenti, mencoba—dengan susah payah berjinjit, melihat siapa pemilik suara indah di dalam sana, yang orang-orang ini awasi.

Jin Hyung.

Dia seniorku di kelas akting, dan baru-baru ini melakukan debut menjadi idol. Aku yakin itu tidak mudah. Aku sering melihatnya berlatih vokal setelah kelas usai.

Lagu yang dinyanyikan selesai. Anak-anak tadi masuk ruangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Berisik sekali.

Hyung… selamat ulang tahun!” ucap laki-laki yang membawa kue tar.

“Wow, berapa banyak lilin yang kamu taruh di sini?”

“Lihat, lilinnya bengkok seperti jari Hyung. Hahaha….” komentar laki-laki lain.

“Kenapa kamu meniup lilinku?!” protes Jin Hyung.

“Aku?” sanggahnya.

“Kamu baru saja tertawa dan itu membuat lilin mati!”

“Buat keinginanmu sebelum meniup semua lilin!” lerai si laki-laki yang membawa kue. Sepertinya itu upayanya agar tidak terjadi perdebatan lebih lama.

Aku tersenyum dan melanjutkan berjalan. Kue tar membawa ingatanku pada kejadian beberapa hari lalu.

Betapa beruntungnya Jin Hyung dikelilingi teman-teman seperti itu. Debutnya juga tidak banyak kendala. Bahkan kudengar, dia “ditemukan”, tidak melalui audisi. Bersama Jhope Hyung, aku pernah membahas ini. Meski menurutnya, keberuntungan ada karena usaha.

Ah, aku ingin sekali menyangkalnya.

***

Selamat ulang tahun ke-27, Jin! Penulis pengin banget panggil Oppa tapi apalah daya… Penulisnya lebih tuaaaaaa T_T

*awake_jin

[5]

Ada banyak aroma yang menggoda indra penciuman, lalu memancing mata terbuka. Salah satunya masakan. Seperti yang kurasakan pagi ini. Tunggu. Tapi pemandangan ini bukan langit-langit kamarku.

Kuraba keningku, ada handuk kecil setengah kering.

Aku bangun dan mendapati diriku di ruang tamu.

Semalam Jhope Hyung dan Hana….

“Sudah bangun?” suara itu mengalihkan pikiranku.

Noona… bagaimana bisa aku di sini?” tanyaku kepada Ruri Noona yang sibuk memasak di dapur.

“Kalau kamu tanya aku, aku harus tanya siapa?”

“Kasar sekali….” gumamku.

“Aku dengar.”

Bodoh!

“Lekas mandi. Lalu sarapan. Hari ini jangan pergi ke luar dulu. Selain terlalu dingin, aku juga tidak yakin kondisimu sudah baik. Kalau nanti merasa tidak enak badan, kita bisa ke dokter.”

“Apa Noona tidak pergi bekerja?”

“Kamu tidak suka aku di rumah? Ini hari Minggu!”

Bodoh!

Aku beranjak menuju kamar. Tapi, ada yang berbeda.

Noona….” kataku sambil menjumput bagian bawah kaosku.

Dia hanya menatapku—yang lagi-lagi tanpa ekspresi. Aku kelu untuk melanjutkan tanya. Ah, biarlah.

***

“Jimin-a! Apa yang kamu lakukan di kamar? Apakah kamu meriang? Apakah harus ke dokter? Segeralah keluar, aku sudah sangat lapar!”

Untuk pertama kalinya Ruri Noona memanggil namaku. Ada banyak perasaan yang berkecamuk dalam dada. Itu yang membuatku tetap bertahan di kamar meskipun sudah cukup lama selesai mandi. Aku kira, akan ada adegan makan sendiri-sendiri seperti sebelumnya. Ternyata noona menungguku.

Pintu kubuka dan aku berjalan ke arah meja makan dengan malu-malu.

“Duduklah.”

Noona….”

“Kamu susah dibangunkan. Seperti malam sebelumnya saat kamu tidur di sana.” Matanya mengarah ke kursi tamu tempatku tidur semalam. “Bedanya, kamu mengigau. Badanmu panas tapi muncul keringat dingin. Aku mencoba membangunkan dan ternyata sia-sia.”

Aku mendengarkan sambil memilin bagian bawah kaosku. Sarapan di hadapanku belum kusentuh.

Noona….”

“Hari ini pacar Min Yoongi ulang tahun. Aku diminta membuatkan sup rumput laut. Mungkin sebentar lagi dia akan datang mengambil. Jadi, sekalian saja aku membuat banyak. Untuk sarapan kita,” jelasnya.

Padahal bukan itu yang ingin kutanyakan.

Noona….”

“Lain kali, jangan tidur sembarangan. Juga dengan baju basah penuh keringat. Kamu bisa sakit.”

Noona….”

“Iya. Aku yang mengganti bajumu semalam.”

Hening. Obrolan tidak berlanjut.

Kemudian, tiba-tiba noona mencondongkan badan ke arahku. Tangannya diletakkan di keningku.

“Apakah kamu demam? Wajahmu merah sekali.”

***

[catatan penulis]

Cia cia ciaaaaa… Setelah kemarin Jin ulang tahun, hari ini juga ada yang ulang tahun, lho….

Saengil chukahamnida, d_rein!
Terima kasih sudah menyayangiku~

Lancar ya perjalanannya ke Korea hingga kembali tiba di Indonesia nanti.

Love you~ 💜💜💜💜💜

-bersambung-

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *