Buku, Review

[REVIEW] Pacarku Memintaku Jadi Matahari; Bertemu Keabsurdan Depresi Suram

“Perempuan itu minta kamu jadi matahari, bukan minta matahari. Dia tahu soal harga diri.” (hlm. 90)

Tokoh aku bertemu dengan perempuan yang tiba-tiba dicintainya di kereta Fajar Utama Jogja. Ia mengungkapkan perasaannya dan menerima jawaban tak terduga dari si perempuan: bahwa hidupnya tidak lama lagi. Mereka berpisah karena perempuan turun di Kroya.

Sesampainya di rumah, tokoh aku menceritakan bahwa ia jatuh cinta dan si perempuan ingin ia menjadi matahari. Ibunya menanggapi sambil lalu, sementara bapaknya justru sibuk tebak-tebakan dengan sapi yang diberi nama Yuan. Akhirnya tokoh aku berdialog dengan matahari. Matahari cerita asal mulanya bisa menjadi matahari. Kisah yang cukup tragis dan mengada-ada.

Enam bulan kemudian, tokoh aku kembali bertemu dengan si perempuan di stasiun Kroya. Tampilannya cukup berbeda, mendandakan bahwa cerita tentang penyakitnya bukan bohong belaka. Meski begitu, si tokoh aku lebih meyakini kalau rambut perempuan yang menipis bukan karena kemoterapi, tetapi karena diserang kutu.

***

Pacarku Memintaku Jadi Matahari karya Reza Nufa sempat menuai kehebohan di lingkupnya karena antusias fans yang membeli buku ini beserta keinginan macam-macam di luar nalar manusia. Ya, tidak usah heran karena si penulis memang suka caper—atau sebenarnya ia tidak berniat caper cuma ya gitu deh.

Ketika Wawan cerita keanehan orang-orang yang pesan buku ini, saya cengo sampe melongo. Ada gitu, ya.

Buku ini berisi 29 cerpen. Beberapa di antaranya, saya tahu yang diceritakan, atau ya anggap saja saya sok tahu. Saya kira buku ini isinya romansa cinta manis yang gimana gitu, meskipun ya itu agak mustahil kalau ditengok dari karya Reza sebelumnya, eh tapi Revolusi itu ada cinta-cintanya ding. Pas naskah ini masih file, sebenarnya dibagiin sih buat siapa aja yang mau baca—dibagiin di grupnya kami, kamu kalau bukan bagian grup kami ya nggosa iri gitu wkkwkwkw, tapi saya sengaja ngga minta soalnya saya tuh susah kalau dimintai komentar karya. Sebab? lha saya aja ngga nulis. Hehe.

Kalau ditanya cerpen yang paling berkesan dan bisa saya ingat adalah “Dua Pemabuk Mengazani Mayat”. Lucu, walaupun ada suram-suramnya. Tapi tidak sesuram cerpen lain. Saya juga agak lambat menyelesaikan buku ini, ada beberapa halaman bahkan cerpen yang sampai saya baca tiga kali karena lupa sudah saya baca belum sih bagian ini. Bahkan setelah membaca—lalu saya tidur, saya mimpi kalau ketemu salah satu perempuan(nya) Reza. Ia jadi jaga toko kosmetik lalu saya beli, nah tiba-tiba ada muncul setan lalu kami lari terbirit-birit. Ini apaan? Saya juga ndak tahu! Saya mendapat mimpi itu setelah membaca cerpen “Perempuan yang Jatuh dari Ranting Bambu”.

Sebelum memasuki cerpen, ada bagian semacam kata pengantar dari Eko Triono. Saya membaca kata pengantar, setelah semua cerpen selesai dibaca. Sebab, biasanya di kata pengantar ini ada bocoran-bocoran yang membuat kurang greget ketika membaca cerpen aslinya. Saya kira, setelah kesuraman dan keabsurdan beberapa cerpen yang membuat pening hahaha, saya akan mendapat pencerahan dari tulisan Eko. Ternyata, makin mumet. Saya tidak tahu Eko ngomong apa. Ya, barangkali memang daya nalar saya memang kurang. Tidak setara dengan mereka hahaha. Atau mungkin, tulisan orang lucu (baca: menyenangkan dan sudah menikah #uhuk) emang agak sulit dipahami. (Eh ya mau numpang cerita, kan yang ngefans sama Eko itu Kak Ve, lah yang “disenggol” sama istrinya Eko malah saya. Sedih ngga sih… wkwkwkw).

Lebih depan lagi sebelum bertemu dengan tulisan Eko Triono, akan ada lembar semacam persembahan. Di situ ada beberapa nama perempuan. Saya sempat sok tahu sambil godain Reza gitu. Ternyata, saya salah duga. Ada cerita sedih huhuhu yang saya tidak tahu dari salah satu nama di situ. Sebenarnya Reza pernah cerita, tapi saya tidur jadi ngga menyimak. Tepatnya setahun lalu setelah dari Semarang (yang berangkatnya saya mabok itu lho).

Untuk cerpen yang menjadi judul buku ini, lebih tepatnya adegan di kerata itu bukan drama Korea, deh. Tapi sinetron Indonesia. Tapi misal Reza mau cocokologi antara Korea sam Kroya, ya terserah. Tapi drama Korea tu ndak gitu ya….

Apa ya?

Saya rasa tulisan ini akhirnya bukan ulasan tentang Pacarku Memintaku Jadi Matahari, tapi curhatan saya. Hehe. Ya, ndak apa-apa.

Semoga karya selanjutnya masuk di jajaran Kusala, ya! Xixixi <3

Segarang apa pun kita memperjuangkan sesuatu, yang kita dapatkan hanya keterasingan yang kian absurd. (hlm. 71)

Baca buku ini dan hitung seberapa sering kamu akan membatin betapa penulisnya absurd, betapa penulisnya sedang putus asa, betapa penulisnya depresi gwilak, atau bahkan akan bilang, “Ih ini ceritanya kok gue banget!”

Judul: Pacarku Memintaku Jadi Matahari

Penulis: Reza Nufa

Cetakan pertama: Juni, 2017

Penerbit: Basabasi

Tebal: 178 halaman

ISBN: 978-602-6651-19-8

 

 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *