Buku, Review

[REVIEW] Mata Ketiga; Bahwa Cinta Itu Banyak Jenisnya

“Perempuan harus bisa menjaga diri, Dis. Menjaga kehormatan dirinya dan orang tuanya.” (hlm. 23)

Sejak memutuskan tinggal di kos, Gadis membuat kesepakatan dengan ayahnya untuk minimal pulang satu bulan sekali. Suatu kali, Gadis mengingkari perjanjian itu. Ayahnya menyusul ke kos bahkan ke kampus. Gadis sudah panik akan ketahuan bahwa alasannya ada pameran di Malang adalah bohong. Sebenarnya, ia tidak pulang karena masih ada bekas lebam yang ditinggalkan Ari di wajahnya.

Gadis membuat tato di tengkuknya. Jika ayah tahu, pasti akan marah. Selain itu, hubungannya dengan Ari tentu akan membuat ayahnya semakin berang. Sayangnya, Gadis tidak bisa lepas dari Ari. Meskipun berulang kali disakiti, tetap saja kembali.

Bagi Gadis, semua itu bentuk pengertian yang harus diberikan pasangan atas nama cinta.

Lalu kenapa tindakan itu tidak saling berbalas?

Apakah Gadis memang harus dominan berada dalam posisi mengalah? Karena posisi dia sebagai perempuan? (hlm. 37)

***

Mata Ketiga, novelet karya Muhajjah Saratini ini merupakan juara satu pada even yang diadakan oleh penerbit Loka Media. Barangkali karena novelet, cerita tentang Gadis justru sangat memuat banyak hal, meskipun disampaikan dengan terbatas. Sebenarnya pencerita dari buku ini adalah tato yang ada di tengkuk Gadis. Dengan sangat apik, Mbak Ajjah menjelaskan dari sudut pandang tato yang memang bukan manusia—yaiyalah.

Kecurigaan saya kepada setiap tokoh biasa aja, awalnya. Namun mendekati akhir, belokan tajam membuat saya cengo ke arah terkejut dan kagum. Lah, kok? Begitu kira-kira responsnya. Pemilihan nama uniseks sangat menipu saya hahaha atau emang saya aja yang bego.

Konflik yang melatarbalakangi perangai ayah Gadis pun dibikin berbelit dan sekali lagi membuat saya kaget. Lah, dasar kagetan wkwkwkwk.

Buku tipis ini sesungguhnya menyimpan sangat banyak hal yang ingin disampaikan. Tentang cinta itu apa sih, banyak ya macamnya. Tentang apakah mencintai itu harus seperti “ayah dan ibu”. Pemahaman bahwa lingkungan lama-lama akan memengaruhi seseorang—jika bersinggungan terus-menerus, atau bahkan DNA akan menurun sehingga membuat seorang anak mempunyai “orientasi” seperti salah satu orang tuanya, dendam cinta yang tidak terbalas, cinta yang hanya kedok belaka, tingkat posesif yang sangat tinggi dalam hubungan percintaan dan posisinya dalam cinta “yang tidak semestinya”, serta lain sebagainya.

Saya rasa, tidak salah jika Mata Ketiga menjadi juara 1. Selamat ya, Mbak Ajjah. Ditunggu karya yang lebih tebal dari ini. Sukses buat debutnya!

“Mana ada laki-laki yang mau nikah sama cewek yang udah nggak perawan?!” (hlm. 49)

-bentar, ini ngga perawan dari mana? xixixi-

 

Judul: Mata Ketiga

Penulis: Muhajjah Saratini

Penerbit: Loka Media

Tebal: 81 halaman

ISBN: 978-602-50105-9-0

 

 

Spread the love

2 thoughts on “[REVIEW] Mata Ketiga; Bahwa Cinta Itu Banyak Jenisnya

  1. Aku mulai curiga sejak Gadis ngaku ke ayahnya bahwa dia pacaran sama Jadid. Di sini aku mulai mikir kalo nama “Ari” kan unisex, inget cerpennya Dee juga, namanya Lana jebule Maulana. Wkwkwk…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *