Buku, Review

[REVIEW] Scheduled Suicide Day; Rencana Bunuh Diri yang Manis

Ruri mempunyai kehidupan yang sempurna. Ibunya adalah seorang pattissier—koki pembuat kudapan manis. Sementara ayahnya adalah seorang koki. Semasa muda, tempat kerja orang tua Ruri berdekatan. Ini yang membuat ayahnya jatuh cinta kepada perempuan manis sekaligus cekatan ini.

Saat berbicara tentang pertemuannya dengan ibu Ruri, ayahnya selalu berkata, “Seperti ada kupu-kupu yang turun ke dada, kemudian tinggal di sana.” (hlm. 18)

Selain mahir memasak, ayah Ruri juga mempelajari fengshui. Ini pula yang menjadikan ibu maupun Ruri sangat akrab dengan fengshui. Bahkan, restoran yang mereka dirikan pun tidak terlepas dari aturan-aturan ini.

Dunia menjadi terasa terbalik ketika secara tiba-tiba ibu Ruri meninggal. Ini adalah pukulan yang sangat berat untuk mereka. Ruri harus mulai biasa berdiri di dapur sendiri—tanpa ada ibu di sampingnya, membagi tugas antara belajar dan membersihkan rumah, serta lainnya.

Suatu hari, ayahnya membawa asisten baru. Seorang perempuan muda dan cantik bernama Reiko. Awalnya, Ruri merasa nyaman karena seperti mempunyai kakak perempuan. Hingga beberapa bulan kemudian, Ruri dipanggil ayahnya untuk berbicara serius. Reiko ada di samping ayahnya dengan gelagat yang berbeda. Sejak itu Ruri merasa bahwa ayahnya kembali menemukan kupu-kupu yang turun ke dada lalu tinggal di sana.

Memulai hidup baru bersama ibu tiri membuat Ruri jengah. Apalagi ketika suatu pagi setelah beberapa hari sebelumnya terlibat pertengkaran dengan ayahnya, Ruri justru melihat ayahnya terkulai lemas di ruang kerja. Di sana ada Reiko dengan tampang tidak kalah panik. Sekali lagi Ruri limbung. Ayahnya meninggal dan ia harus lebih kuat ditinggalkan orang yang dicintai. Terlebih setelahnya harus tinggal berdua bersama perempuan asing yang disebut ibu tiri.

Ruri yakin Reiko adalah dalang yang membuat ibu dan ayahnya meninggal. Dugaan itu diperkuat dengan kemunculan Reiko yang langsung mengambil alih pekerjaan ayahnya, serta rutin tampil di berbagai media. Ruri bahkan sempat bertanya-tanya tentang uang asuransi ayahnya yang jumlahnya tidak sedikit. Pasti semua itu dinikmati oleh Reiko.

Selanjutnya, Ruri berusaha mengumpulkan bukti-bukti tentang dugaannya. Ia merencanakan bunuh diri dengan meninggalkan surat wasiat yang isinya menjelaskan bahwa yang membunuh ibunya adalah Reiko. Harapannya, polisi akan menyelidiki Reiko dan memasukannya ke penjara.

Ruri meminta izin kepda Reiko untuk menginap di rumah temannya. Padahal, sebenarnya ia akan ke desa Sagamino. Tempat itu dulunya sempat terkenal karena pernah dijadikan tempat syuting film horor fantasi “Aoyami no Mori”. Tetapi berangsur-angsur sepi dan justru dijadikan tempat tujuan orang bunuh diri. Ruri menjadi salah satunya.

Alih-alih merencanakan semuanya dengan sangat rapi, mulai dari meninggalkan surat wasiat di penginapan dan menempuh jarak yang tidak dekat menuju tempat bunuh diri, Ruri justru bertemu dengan Shiina Hiroaki. Ia adalah “arwah” yang menggagalkan upaya bunuh diri Ruri.

“Bunuh diri itu akan membunuh hati orang-orang lain di sekelilingmu juga.” (hlm. 109)

Mereka membuat sebuah perjanjian, jika selama satu minggu Ruri tidak bisa menemukan bukti bahwa Reiko adalah pembunuh ibunya, maka Ruri akan melanjutkan upaya bunuh dirinya.

Dengan  berbekal ilmu fengshui, selama satu minggu itu dilewati Ruri dengan beragam kejadian. Hingga sebuah fakta yang mengejutkannya secara bertubi-tubi.

“Penderitaan hanya bisa dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Kalau misalnya belajar untuk ujian itu menyakitkan, tinggal berhenti saja. Kalau misal terlalu banyak bekerja sampai tenaga habis, tinggal pindah pekerjaan saja. Semua orang yang tertekan, paling mengerti itu. Tapi, karena tidak bisa melakukannya, semua orang jadi menderita. Di dunia ini banyak orang yang kesusahan karena perang dan kelaparan. Dibandingkan dengan mereka, kita adalah orang-orang yang cukup sejahtera. Berpikir untuk bunuh diri itu benar-benar egois, lemah, dan hanya bisa menghindar dari masalah.” (hlm. 113)

***

Scheduled Suicide Day adalah novel karya Akiyoshi Rikako keempat yang saya baca. Setelah sebelumnya membaca Holy Mother, membaca novel ini menjadi sedikit kurang greget. Saya sangat berharap akan ada kejutan dahsyat di novel ini. Sayangnya, ya, begitu. Tetapi jangan salah. Penulis yang tidak memberikan kejutan lebih daripada karyanya terdahulu, juga merupakan kejutan, lho. Itulah makanya jangan terlalu banyak berharap. Hahaha….

Novel ini bagus karena menyoroti dunia anak muda, khusunya di Jepang yang penuh tekanan hingga membuat keinginan bunuh diri. Dari tokoh Shiina Hiroaki, dijelaskan dengan gamblang bahwa alasannya untuk “mati” juga karena tekanan dari ibunya yang mengahruskan ia juara, selalu rajin belajar, dan lain-lain. Persaingan ini yang kerap menjadikan anak depresi.

Dunia remaja lainnya dalam novel ini adalah cerita tentang persahabatan Ruri yang renggang karena konflik remeh semacam asmara jiwa-jiwa muda. Manusiawi banget pokoknya.

Kejutan akan ditemui menjelang akhir lembar novel ini setelah adegan “drama” menegangkan pertengkaran antara anak dan ibu tiri, penyelesaian yang dirasa “oh” kok kayak sinetron banget hahaha. Tapi saya deg-degan sih baca bagian ini. Pungkasannya semakin “oh” lagi. Hm, kok gini, yha. Maksa ngga sih. Gitu-gitu pokoknya.

Tapi di sisi lain, novel ini bacaan yang bagus untuk memotivasi anak muda agar tidak mudah menyerah dalam menghadapai masalah. Sebab, masalah selalu datang sepaket dengan solusi. Solusi ini bisa ditemukan sendiri, atau memang harus menggandeng orang-orang sekitar untuk mengurainya. Bahkan, bisa saja sebuah masalah menghubungkan kamu dengan orang baru yang menyenangkan dan itu jodohmu. Okay, ini ngawur. Xixixi

Fengshui dibahas cukup detail dalam buku ini. Beberapa waktu lalu, tempat saya bekerja juga menerbitkan buku fengshui. Awalnya saya mikir sih, emang ada ya yang memelajari. Meh, ternyata gunanya banyak, ya. Meskipun tetap ada semacam aturan yang menurut fengshui begini tetapi ada baiknya tidak tergantung tentang hal itu. Ya, semacam itu.

Judul:Scheduled Suicide Day
Karya: Akiyoshi Rikako
Penerjemah: Andry Setiawan
Penerbit: Haru
Tebal: 276 halaman
ISBN: 978-602-638-319-8

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *