Buku, Review

[REVIEW] Pelisaurus; Sebuah Cerita Xixixi

Elisa mengambil tasnya lalu mengeluarkan isinya. Aku mencermatinya. Ada belati, alat kosmetik, dan sebuah buku kumpulan cerita berjudul Tuhan Tidak Makan Ikan. Rupanya, ia masih memelihara kesenangan bacaannya. (hlm. 73)

Banyak penulis yang melalui karya barunya, menuliskan judul buku terdahulunya. Salah satunya adalah Gunawan Tri Atmodjo. Melalui cerpen berjudul “Banci Gento” dalam kumpulan cerpen Pelisaurus, pembaca sengaja diingatkan dengan buku Tuhan Tidak Makan Ikan.

Tidak banyak berbeda dengan karya sebelumnya, Pelisaurus menyajikan cerita memancing tawa, nyengir, dan sering kali miris. Hanya saja, seperti judulnya, cerita di dalam buku ini banyak bersinggungan dengan kegiatan rahasia laki-laki—yang menjadi tidak rahasia lagi di buku ini.

Rudi Dalma menanamkan keyakinan kepada tokoh aku bahwa sebuah kebetulan jika terjadi dua kali dalam sehari, berarti pertanda bahwa yang mengalaminya akan segera mendapat anugerah, atau sebaliknya, mendapat musibah. Rudi Dalma adalah teman tokoh aku yang mempunyai tampang kasar tetapi bergestur kemayu. Belakangan, ia dikenal sebagai hansip teladan tingkat kecamatan.

Teman lain yang “ditemui” tokoh aku selanjutnya bernama Sri Suwartini. Sosoknya tiba-tiba menghiasi layar kaca sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan yang baru. Ia menjadi satu dari delapan menteri baru yang dilantik karena presiden melakukan reshuffle. Ternyata, Sri Suwartini adalah mantan si tokoh aku. Tidak heran jika Dik Warti—panggilan sayang si tokoh aku, menjadi menteri. Sebab, sejak dulu pun ia sudah dikenal gigih. Salah satunya dalam memperjuangkan pendidikan. Ia harus menempuh jarak yang jauh dari rumahnya hingga ke kampus. Perjuangan inilah yang membuat tokoh aku mencintai Dik Warti.

Tokoh aku mempunyai kebiasaan ngeloco, apalagi setelah bertemu dengan pacarnya. Suatu hari, ia baru sadar kalau tembok kamar mandi “langganannya” baru saja dicat sehingga segala coretan yang sebelumnya ada telah bersih. Setelah melakukan kegiatannya, ia menggambar dinosaurus berleher panjang tetapi kepalanya diganti dengan gambar kepala penis. Ia menambah tulisan pelisaurus di bawahnya.

Peli adalah bahasa Jawa untuk penis. Kupandangi mahakaryaku di tembok itu dan mengaguminya cukup lama. Gambar pelisaurus itu adalah momentum jadianku dengan Dik Warti. (hlm. 32)

Pelisaurus berisi 22 cerita pendek. Beberapa judul menggabungkan bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa. Misalnya “Banci Gento”—yang dikutip pada bagian awal tulisan ini, mempunyai arti ‘waria preman’. Ada pula “Franky Idu”. Idu adalah bahasa Jawa dari meludah. Juga “Poni Kirik”, kirik mempunyai arti anak anjing.

Banyak cinta yang disampaikan dalam kumpulan cerita ini. Tentu saja cinta dengan beragam jenis dan bentuk. Banyak juga kejutan yang ditemukan. Misalnya menarik kembali sebuah kisah di awal tulisan dan menjadikannya akhir yang memaksa pembaca membuka lagi halaman sebelumnya. Beberapa cerita juga menunjukkan bahwa lika-liku kehidupan sangat mungkin memengaruhi (mengubah) orientasi seksual seseorang.

***

Sebelum membaca Tuhan Tidak Makan Ikan, saya tidak tahu siapa itu Gunawan Tri Atmodjo. Hahaha. Maklum kali lah, semasa kuliah, saya kenalnya sama Terajana dan jajaran bacaan islami #uhuk. Lalu sebuah kesempatan menjadikan kami semakin dekat. Wkwkwkwk oposih. Mas Gun ini tipe yang mengasyikkan kalau cerita. Selama kurang lebih dua jam melalui jalan Jogja-Jepitu (dan mampir ngemi ayam sik), banyak cerita yang saya dapat.

“Saya membaca minimal 100 halaman per hari, Mbak.”

Saya mencoba menerapkan ini juga lho, dan hasilnya zonk. Gagal total. Hahahaha.

Ketertarikan membaca Pelisaurus tentu bukan karena judulnya yang mengandung unsur kelamin. Tapi karena cerpen-cerpen Mas Gun yang membuat bahagia. Awalnya saya memperlakukan buku ini biasa saja. Saya bawa ke mana-mana ketika proses membaca dan menaruh begitu saja. Sampai, minggu lalu ketika di rumah saudara, pakde saya menegur kok ada buku judulnya saru begini. Eng.. ing… eng…. Akhirnya ketika membawa buku ini ke rumah, selalu saya letakkan terbalik biar judulnya tidak terpampang nyata. Ya, gimana kalau mamak syok juga?

Terlebih ketika saya unggah di Facebook dan mendapat respons beragam. Ternyata memang banyak kaum tiada selau di dunia yang fana ini.

Beberapa teman yang bukan orang Jawa, tidak tahu arti kata peli, jadi ya santai-santai aja. Kak Ve misalnya. Nah pas di tempat wudhu (pencitraan amat), Mbak Rina juga tanya apa artinya. Lah, ngga tahu juga ternyata. Amalina yang notabene orang Godean juga ngga tahu ding. Ya, maklumi kalau untuk orang cantik.

Hm, kalau untuk isi ya. Beberapa kesalahan “remeh” di buku sebelumnya (macam kata tidak baku, saltik, dll) tidak ada. Tapi terdapat ketidakkonsistenan pada penyebutan aliah yang kadang aliyah.

Sebagai perempuan yang belum menikah (HAHAHAHA) cengolah saya—yang alim ini, setelah merampungkan membaca Pelisaurus. Lalu muncul pertanyaan, “Emang cowok begitu, ya?”

Kalau ditanya dari 22 mana yang paling favorit, maka “Antara Aku dan Anjing Itu” dan “Melupakan dengan Ingatan” jawabannya.

“Anggap saja kalian tidak berjodoh dan lelaki itu beserta seluruh keluarganya adalah keturunan bajingan.” (hlm. 124)

Judul : Pelisaurus dan Cerita Lainnya
Pengarang : Gunawan Tri Atmodjo
Penerbit : Basabasi
Cetakan : Pertama, September 2017
Tebal : 200 halaman
ISBN : 978-602-6651-32-7

 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *