Uncategorized

tantangan menulis basabasi store day 6: harapan untuk 5 hingga 10 tahun lagi

7 hari tantangan menulis basabasi store (line @zog5070k)

 

lima tahun dari sekarang, usia saya tiga puluh satu. mamak sering bilang, jangan melampaui tiga puluh untuk menikah. maka, saya harap saat itu saya sudah menikah dengan orang yang benar-benar saya sayang dan sayang sama saya. meskipun kata saling dalam sayang itu seringan terlalu muluk. bahkan untuk keadaan saat ini. hahaha. saat ini. lalu pura-pura hilang ingatan.

setidaknya, tahun depan saya sudah menikah dan tidak menunda untuk punya anak. jadi, lima tahun lagi anak saya palingan berusia tiga tahun. sedang lucu-lucunya.

okay, kita sepakati dulu ya tentang anak berusia tiga tahun ini.

kenal dengan banyak orang membuat saya juga makin tau banyak pemikiran absurd di dunia ini. seperti salah satu teman yang bilang seperti ini; yang ingin anak lahir ke dunia kan orang tua, lalu kenapa orang tua yang meminta anak berbakti? kan belum tentu anak itu mau dilahirkan?

lalu, seorang ibu yang saya tahu pasti perasaannya terluka membaca kalimat itu, karena dia baru saya melahirkan anak perempuannya yang sangat lucu bilang; saya tidak pernah berpikir sejauh itu dan yang penting saat ini adalah memberikan apa pun yang terbaik untuk anak saya, sebisa saya.

ini adalah pemikiran orang-orang generasi saya. bagaimana pemikiran generasi anak saya nanti? jangan-jangan lebih menakutkan, meskipun orang tua memberi didikan cukup baik. bacaan, pergaulan, lingkungan, yahh semacam itu tidak bisa dipantau intens banget sih, seiring dengan bertumbuhnya usia anak.

wah, kayaknya udah cocok nih nulis buku parenting wkwkwkw

lima tahun lagi, berarti anak saya berusia delapan tahun. sudah sekolah, mempunyai teman, tertawa, menangis, dan masalah paling pelik hanyalah pr matematika hahaha klasik banget. dalam rentang waktu itu, kami akan belajar bersama. saya mencoba menjadi ibu yang baik, dan dia anak yang manis. beberapa, saya membaca cara didik teman saya yang sudah mempunyai anak. saya bisa menerapkan itu. tentang cara menegur anak, melerai anak saat bertengkar, mengajarkan minta maaf dan memaafkan, dan lainnya.

saya tidak muluk-muluk misalnya mau menyekolahkan anak ke sekolah alam yang konon mahal itu. biar masa kecil anak saya nanti seperti anak-anak pada umumnya. seperti ketika saya dan bapaknya sekolah dulu. mungkin akan bijak memasukkan ke sekolah negeri saja. atau mau sekolah muhammadiyah biar pengetahuan agamanya ngga cengo kayak ibu bapaknya yang baca quran bisa sih tapi ya begitu aja. hahahah.

anak saya nanti, boleh belajar alat musik apa pun, nyanyi, menari, menggambar, merajut, memasak, pokoknya bebas. jangan seperti saya yang belajarnya serba setengah-setengah.

pernah dulu, pas ada terlibat acara pertunjukkan, saya mengagumi para penarinya dan bilang; anak saya nanti kayaknya asik kalau jadi penari. apalagi setelah tau salah satu teman saya yang seorang penari sering banget ke luar negeri macam korea, jepang, amerika, australia, dan lain-lain karena tari. lalu di lain lagi, tapi penari sering dipegang-pegang sama parternya, ya. duh gimana. hahaha.

lain lagi pas tau temen jago musik dan nyanyi. wah, bolehlah anak saya nanti jago begituan. kayak idol yang dipuja ibunya ketika berusia dua puluh enam tahun. atau akting? hm, agak nggak suka sih sama dunia teater, tapi ya kalau anak mau, ngga apa-apa. juga, pas lihat teman satu kantor jago banget gambar, uch…. nanti anak saya bolehlah macem ini. kan bisa aja femez karena webtoon (atau entah sebutannya berpuluh tahun nanti).

apalagi? memasak, menjahit, merajut, semua itu bisa dilakukan simbah saya. saya bisa sedikit-sedikit dan nanggung banget. nah, semoga generasi nanti, ada yang bisa menguasai itu semua. hahahaha. muluk banget.

taunyaaa, anak mageran macem ibu bapaknya.

sebentar, ayo nyari bapaknya dulu. tanpa dia, kim tidak akan lahir 🙂

 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *