Catatan

Sebelum Akhir Tahun

Sembilan jam menuju tahun baru, kamu masih di kantor? Sama! Aku juga.

Mungkin akan ada beberapa tulisan yang kuposting. Tentang pencapaian-pencapaian, juga yang belum. Rasanya nggak afdol juga kalau nggak nulis catatan akhir tahun. Aihihihi.

Banyak yang terlewat. Buanyak buanget. Paling fatal adalah novel yang belum juga jadi. Ini mau jadi nggak sih sebenarnya? Ibaratnya jalan, dia udah sampai di belokan pertama. Ada empat belokan lagi. Yah, masih jauh ya. Terus ya, baca novel temen yang menang sayembara penulis remaja terbaik balai bahasa Yogyakarta. Dari awal, pembaca udah disuguhi konflik yang bikin tegang. Nah, tulisanku kenapa lempeng aja kayak jalan tol. Cius. Udah gitu nggak ada rahasia-rahasia pula. Semua udah dibeber di awal. Haiyah…. Njuk kudu piye?

Mungkin, faktor sering pindah kos turut mempengaruhi kekonsistenan menulis. Ya, entah ini alibi atau pembelaan atau memang benar adanya. Yang jelas, tingkat kemalasan menjadi kunci segala kunci. Pernah nggak sih, merasa sangat malas dengan yang sepertinya semakin mengejar. Kayak inilah pokoknya. Aku pernah dapat ungkapan ini dari seseorang sih. *Tsah…. Tuh, makanya, kalau diuber-uber cowok yang nggak suka, maunya menghindar aja. Semacam ini lah. Jadi, kesimpulannya adalah pada satu kata yang sudah tidak asing tiada tara; cinta.

Kalau semua didasari dari cinta, pasti nggak bakalan males dikejar-kejar cowok. Pun dikejar-kejar naskah biar cepat kelar. Dan, cinta sepertinya tidak bisa diganti dengan benci. Kalau dendam boleh nggak ya? Atau malah semakin tertekan. Sesak gue *kibas-kibas tangan nyari udara.

Kebanyakan intro ah.

Januari: Ke sana ke mari nyari kerjaan. Bingung segala bingung jadi satu. Dibilangin katanya ada yang mo nikah. Jebulnya ngapusi.

Februari: Diterima kerja. Ulang tahun dapat kado kumpulan cerpennya Djenar Maesa Ayu.

Maret: Anggap aja bulan ini mulai ngajar ekstrakurikuler di SMK.

April: Atau malah di bulan ini ya?

Mei: Sinopsis novel diterima. Observasi (yang nggak kunjung selesai).

Juni: Bikin surat panjang (eh, bulan ini atau bulan selanjutnya sih?).

Juli: Kayak di atas tuh, lupa tepatnya.

Agustus: Mulai jadi editor freelance website. Jatuh dari motor (kayaknya bulan ini).

September: Teater Blank-On pentas dua kali. Humas Njemparing Rasa.

Oktober: Njemparing Rasa, dengan sejuta rasa di dalamnya.

November: Borobudur Writer and Culture Festival, pun dengan sejuta rasa plus tanya di dalamnya.

Desember: Cerpen dimuat lagi setelah hampir dua tahun. Bertemu kenyataan. #KampusFiksi edisi Nonfiksi.

Kalau mau dijelasin detail membutuhkan waktu setahun. Yang jelas, tahun 2014 nggak lebih baik dari tahun sebelumnya (kecuali udah nggak minta uang jajan lagi sama emak) dan lima bulan “puasa” tidak bertemu meskipun sebelumnya dan sesudahnya itu kembali lagi jadi kaset bodol yang diputar.

Yang terlewat tahun ini adalah NGGAK ADA JALAN-JALAN KE LUAR KOTA GITU. Mempeng tenan le nggolek duit. MELAS BANGET.

Keajaiban: Selama sebelas bulan kerja, HANYA BULAN FEBRUARI DAN DESEMBER MASUK FULL. Bulan-bulan lainnya pasti ada izin yang dipotong gaji itu.

Yang didapat tahun ini banyak. Lebih-lebih tentang kejutan. Teman-teman baru, masa-masa kerja yang membahagiakan, juga ilmu tentang sospol yang awalnya nol banget. Oh ya, sekarang juga udah bisa beli novel sesuka hati tanpa mikir besok makan apa.

Terima kasih untuk segala kepercayaan-kepercayaannya, tentang cerita-cerita, duka, lara, juga lainnya. Semoga tahun depan bisa menjadi lebih baik.

Malam nanti, rencananya mau buat catatan akhir tahun dan beberapa ungkapan seperti dalam novel Bernard Batubara, buat kamu.

Juga masih ada utang unggah tulisan Al.

Sampai bertemu.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *